URGENSI Kenaikan Cukai Rokok di TENGAH PANDEMI

Pengendalian konsumsi rokok di saat pandemi ini menjadi sebuah keharusan. Apa urgensinya?

rokok ilustrasi
rokok ilustrasi

Saya itu mantan perokok. Sudah lebih dari enam bulan saya tobat setelah dalam kurun waktu yang cukup lama terjebak dalam kenikmatan semu dan mematikan dari kepulan asap putih beracun yang saya hirup. Saya bilang sangat lama karena secara defacto saya sudah akrab dengan rokok sejak SMA. 

Ya begitulah. Awalnya memang hanya sekedar coba-coba, eh gak tahunya malah ketagihan. Akhirnya saya curi-curi kesempatan sama orang tua untuk bisa merokok. Baru setelah kuliah semester dua saya mulai terang-terangan “memproklamirkan diri” sebagai perokok aktif di depan mereka. 

Orang tua sama sekali tidak mencegah apalagi marah. Lha gimana lagi, saya memang tumbuh di keluarga yang akrab dengan asap rokok. Almarhum ayah saya dulu seorang perokok berat, begitu juga dengan kakek bahkan nenek saya. Karena itu pula barangkali orang tua saya melakukan pembiaran saat tahu saya merokok.

“Lho, saiki kowe ngrokok tho, le.” Kata ayah dengan wajah datar dan senyuman yang entah apa artinya.  

Saat itu, sangat mudah bagi saya untuk mendapatkan rokok. Stok selalu tersedia bahkan tanpa harus membeli. Pasalnya almarhum ayah saya adalah karyawan salah satu perusahaan rokok terbesar di Indonesia berpusat di Kudus, Jawa Tengah. 

Melekat statusnya sebagai karyawan pabrik rokok, setiap Sabtu sore beliau pasti membawa pulang setidaknya 3 (tiga) selop rokok dengan kemasan berwarna orange bertuliskan “Khusus Untuk Karyawan”.

Kalau satu selop berisi 10 bungkus maka dalam sebulan setidaknya tersedia rokok hingga 120 bungkus. Jumlah yang cukup untuk membuat kamar berasap. Ketersediaan rokok ini pun membuat saya seperti cerobong kereta api. Dalam sehari saya bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus rokok. Ngeri, bukan? 

Awalnya memang hanya sekedar coba-coba, eh gak tahunya malah ketagihan.

jualjuel.com

Tak hanya rokok jatah karyawan, seringkali beliau juga membawa pulang rokok-rokok sortiran (tidak lolos QC) dari berbagai merk dalam jumlah yang sangat banyak. Kalau dihitung jumlahnya bahkan bisa melebihi jatah rokok karyawan mingguan.

Yang menarik, dari sinilah akhirnya saya tahu kalau perusahan rokok, seperti tempat almarhum ayah saya bekerja dulu, ternyata juga membuat rokok khusus untuk para wakil rakyat dan beberapa lembaga negara. Saya sering mendapati beberapa pak rokok dengan bertuliskan DPR/MPR, bea cukai, lembaga ini dan itu.

Jauh setelah itu saya baru berfikir bahwa pantas saja rokok, tembakau dan cukai menjadi isu sensitif di republik ini karena masuk dalam lingkaran sistem di negara ini, bukan hanya tentang pendapatan tetapi juga kebijakan. Tetapi itu dulu banget. Seingat saya pada masa-masa sebelum reformasi di mana kuda masih gigit besi. Kalau sekarang saya tidak yakin masih ada rokok yang diproduksi untuk keperluan seperti itu.

rokok

TITIK BALIK, GARA-GARA Om Saya Mati Karena Rokok

Setelah orang tua meninggal, kebiasan merokok saya masih masih berlanjut walaupun rokok tidak gratis lagi alias harus membeli sendiri. Walaupun demikian karena tuntutan kebutuhan ekonomi, setelah berkeluarga saya berangsur-angsur mengurangi konsumsi rokok. Kalau awalnya sampai 2-3 bungkus per hari kemudian berhasil saya kendalikan sebungkus untuk sehari. 

Namun, sebelum benar-benar tobat sebenarnya saya masih seperti orang pacaran yakni putus nyambung putus nyambung dengan rokok. Dua bulan gak ngrokok sebulan kemudian ngrokok lagi. Memang berat sekali kalau meninggalkan kebiasaan yang satu ini. Sehari ‘gak merokok mulut jadi sangat kecut dan pikiran jadi gak bisa fokus, walaupun itu hanya sugesti semata. 

Saya benar-benar meninggalkan rokok itu setelah melihat penderitaan om saya dengan mata kepala sendiri. Adik kandung ayah saya ini harus tersiksa di ujung usianya. Rokok telah merenggut nyawanya dengan meninggalkan “lubang mengerikan di tenggorokan”. Persis seperti gambar yang ada di bungkus rokok.

Penderitaan Om saya ini membuka mata saya lebar-lebar dan menjadi titik balik. Kandungan zat-zat berbahaya yang ada pada rokok itu nyata. Gambar leher berlubang di bungkus rokok juga bukan ilustrasi semata.

Terakhir kali saya menjenguk, beliau terkulai lemas di tempat tidur menahan sakit. Saat itu tangan beliau menunjuk ke lubang di tenggorokannya tanpa terucap kata-kata. Mungkin om mau bilang kepada saya agar berhenti bergaul dengan rokok agar tidak terjadi seperti beliau.

“Iya Om.” Kata saya sambil menganggukan kepala.

Penderitaan Om saya ini membuka mata saya lebar-lebar dan menjadi titik balik bagi saya. Kandungan zat-zat berbahaya yang ada pada rokok itu nyata. Gambar leher berlubang di bungkus rokok juga bukan ilustrasi semata.

Om saya adalah salah satu korban nyata akibat rokok yang menurut who.int setiap tahun ada sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit lain yang berkaitan dengan tembakau.

Kandungan rokok

PEROKOK DI INDONESIA "SEMAKIN MUDA"

Ada Ironi di negara kita ini karena himbauan dan peringatan akan dampak mengerikan yang disebabkan zat-zat berbahaya dalam rokok diabaikan begitu saja oleh banyak orang. Nyatanya para perokok yang belum tobat pun masih banyak. 

Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 membuktikan kalau jumlah perokok Indonesia memang masih sangat tinggi bahkan tertinggi ketiga di dunia dan nomor satu di kawasan negara-negara ASEAN. Setidaknya ada 65,9 juta orang perokok di Indonesia. Artinya 1 dari 3 orang Indonesia merokok, dengan perokok pria sebesar 63% atau 2 dari 3 pria Indonesia adalah perokok. 

Jumlah Perokok di Beberapa Negara ASEAN TAHUN 2019 (Dalam Juta Orang)

Sumber – databoks.katadata.co.id

Yang mengerikan, jumlah perokok baru pun semakin bertambah setiap tahunnya. Dalam hitungan angka perokok anak usia 10 – 18 tahun naik dari 7,2 persen (2013) menjadi 9,1 persen (2018), atau sudah hampir 1 dari 10 anak Indonesia merokok. Namun usia tersebut tidak mencakup usia anak yang lebih muda (di bawahnya) seperti beberapa kasus yang viral di video-video youtube. sSangat mungkin perokok pemula di negara kita bahkan jauh lebih tinggi.

Kenaikan jumlah perokok ini disebabkan oleh banyak faktor. Bisa jadi karena pebiaran orang tua, lingkungan dan pergaulan serta masifnya iklan, promosi, sponsor, dan harga rokok. Adalah fakta di Indonesia bahwa iklan, promosi, dan sponsor rokok serta harga rokok masih sangat terjangkau di kantong anak-anak. 

Berbagai cara cerdik dilakukan perusahaan rokok untuk menggaet anak muda untuk mulai merokok dan kecanduan. Mereka memulai dari iklan rokok bergaya anak muda yang dicitrakan keren, modern dan sebagainya. Tak jarang perusahaan-perisahaan rokok atas nama CSR Pendidikan meletakkan iklan-iklan di sekitar sekolah, sampai membuat promosi harga per batang di iklan-iklannya.

Persentase Remaja Yang Merokok di ASEAN

Sumber – databoks.katadata.co.id

*Persentase siswa yang merokok pada suatu hari atau lebih dalam 30 hari terakhir. **Data didasarkan pada saat ini menggunakan produk tembakau apa saja dan kapan saja selama 30 hari terakhir. ***Prevelensi merokok remaja (4%) adalah angka gabungan

Pandemi, MOMENTUM Tepat Naikan Cukai Rokok

Pemerintah sebenarnya telah berupaya membatasi iklan rokok dengan menerbitkan sejumlah regulasi, salah satunya Peraturan Pemerintah (PP) No.109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan Yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan. 

Sebelumnya, kementerian Kesehatan bersama dengan Kementerian Lembaga terkait pun telah melakukan upaya pengendalian iklan dengan pembatasan iklan rokok di Internet dengan Undang-Undang No.36 Tahun 2009. Namun rasa-rasanya hal itu belum cukup. Faktanya prevelensi kenaikan jumlah perokok terutama usia muda masih sangat tinggi karena hal-hal di atas, lebih-lebih pada murahnya harga rokok.

Sebungkus rokok Marlboro misalnya, di Indonesia masih dalam kisaran harga S$2. Masih sangat murah dibanding Malaysia yang rata-rata dijual dengan harga S$ 5,8. Alih-alih dengan inggris yang sebungkusnya sampai S$ 18.4. Bahkan di Selandia Baru bisa mencapai S$26,1.

Perbandingan Harga Rokok Marlboro Indonesia dan Negara di Dunia

Diolah dari berbagai sumber

Banyak negara (termasuk Indonesia) memang terus berupaya untuk menurunkan prevalensi perokok. Berberbagai cara telah dilakukan. Salah satu cara paling efektif yang menjadi pilihan adalah dengan menaikkan cukai rokok (tembakau).

Hal senada juga disampaikan oleh R. Renny Nurhasana, Dosen dan Peneliti Sekolah Kajian Strategic dan Global Universitas Indonesia yang hadir sebagai salah satu nara sumber dalam acara Talk Show Radio Ruang Publik yang diselenggarakan oleh KBR dengan tema “Mengapa Cukai Rokok Harus Naik Saat Pandemi” pada tanggal 29 Juli 2020.

Urgensi Kenaikan Cukai Rokok di Tengah Pandemi 1

Dalam acara talkshow yang berdurasi kurang lebih satu jam, dipandu oleh Don Brady serta disiarkan langsung di 100 jaringan radio KBR di seluruh Indonesia ini beliau mengatakan,

...cukai tembakau merupakan salah satu yang paling efektif di berbagai negara terbukti dari kajian-kajiannya bahwa negara berhasil menurunkan prevalensi dengan mekanisme harga. Atau salah satunya dengan menaikkan cukai.

R. Renny Nurhasana - Dosen dan Peneliti Sekolah Kajian Strategic dan Global Universitas Indonesia Tweet
Urgensi Kenaikan Cukai Rokok di Tengah Pandemi 2

Di negara kita, cukai rokok sebenarnya sudah naik beberapa kali. Terakhir kali adalah pada 1 Januari 2020 lalu sebesar 23%. Dampak dari kenaikan cukai ini secara langsung telah mempengaruhi harga rokok eceran. Rata-rata naik sekitar 35%. 

Walaupun begitu beberapa kalangan menganggap bahwa kenaikan cukai sebesar 23% ini masih belum cukup ampuh untuk menurunkan jumlah perokok di Indonesia yang relatif tinggi. Salah satunya adalah Prof. Hasbullah Thabrany, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau.

Beliau yang juga didaulat menjadi nara sumber dalam talkshow ruang publik KBR bersama Renny ini mengatakan,

hasbullah

...Kalau kajian-kajian kami terakahir, harusnya harga per bungkus Rp70.000 baru efektif mengendalikan konsumsi rokok, hanya mereka yang sudah biasa merokok akan terus merokok, yang belum akan tidak memulai.

Prof. Hasbullah Thabrany, Ketua Umum Komnas Pengendalian Tembakau Tweet

Menjawab pertanyaan kenapa cukai rokok harus naik di masa pandemi Covid-19 ini, baik prof. Hasbulah maupun Renny mempunyai jawaban yang sama, yakni.

Menurunkan Daya Tahan dan Memudahkan Seseorang Terkena Covid-19

Secara umum rokok akan menurunkan Daya Tahan seseorang. Rokok memberikan ancaman serius pada masyarakat di tengah pandemi. Renny mengatakan, perokok beresiko 14 X lebih mudah seseorang terpapar virus corona, penyebab Covid-19. 

Sependapat dengan Renny, Prof. Hasbullah pun mengatakan bahwa Covid-19 adalah virus yang menyerang paru-paru dan menyumbat saluran pernapasan. Di sisi  lain orang merokok menghisap (racun dan zat-zat berbahaya) yang juga menyerang serta merusak paru-paru. Maka, virus corona mudah masuk ke dalam tubuh dan mempermudah terjadinya kerusakan paru-paru.

Seperti diketahui bersama bahwa sejak mewabah di Indonesia, kematian akibat COVID-19 di Indonesia luar biasa dibandingkan negara lain. Nah, salah satu alasannya adalah kebiasaan merokok. 

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa dari semua pasien Corona, sekitar 17,8% pasien Covid-19 perokok mengalami kondisi yang buruk. Sedangkan yang bukan perokok, hanya mengalami perburukan sebanyak 9,3 persen. Artinya, perokok bersiko terjadinya kefatalan akibat Covid-19 hampir dua kali lipat lebih. 

Selain itu, secara faktual perokok juga berisiko tinggi mengalami penyakit jantung dan pernapasan, yang merupakan faktor risiko mengembangkan penyakit parah atau kritis dengan COVID-19. Maka, ini adalah waktu yang tepat menaikkan cukai rokok untuk mencegah terjadinya perburukan atau bahkan kematian akibat COVID-19. Begitu  kata Prof. Hasbulloh dan Renny senada.

bahaya rokok di masa pandemi covid-19

Alasan Perokok Lebih Rentan Terhadap COVID-19

sumber – p2ptm.kemkes.go.id

Menekan Sistem Imun

Merokok menekan fungsi sistem imun tubuh yang memicu peradangan sistem pernapasan

Mengurangi Kapasistas dan Fungsi Paru-Paru

Kapasitas paru-paru perokok berkurang sehingga mudah meningkatkan penyakit serius

Urgensi Kenaikan Cukai Rokok di Tengah Pandemi 3

Resiko Jantung

Perokok beresiko tinggi terkena penyakit jantung dan pernapasan

Menularkan Virus

Merokok dapat menularkan virus dari tangan ke mulut karen jari menyentuh bibir

Menjadi Receptor Virus CORONA

Merokok meningkatkan receptor ACE 2 yang juga menjadi receptor virus corona

Mendorong Masyarakat Lebih Efektif Membelanjakan Resources Yang Dimilikinya di Masa Pandemi Covid-19

Ketika virus corona muncul, hampir semua negara tidak benar-benar siap dalam mengatasi dampak yang ditimbulkannya. Sebagian besar orang terdampak secara ekonomi. Celakanya, vaksin virus yang konon berasal dari kelelawar ini hingga saat ini belum secara eksplisit ditemukan.

Nah, kenaikan cukai rokok akan mengakibatkan kenaikan harga-harga terutama di tingkat eceran. Dalam kondisi seperti ini, perokok akan berfikir dua kali membelanjakan resources yang dimilikinya secara berlebihan, termasuk di dalamnya adalah kebutuhan akan rokok. Artinya, kenaikan cukai rokok bisa menjadi cara edukasi efektif yang akan “memaksa” masyarakat mengurangi beban belanja rokok dab dialihkan untuk belanja makanan kebutuhan pokok bagi keluarga

“Kalau punya Duit Rp 20.000 daripada dibelikan rokok, ya mending dibelikan telur agar kebutuhan protein keluarga terpenuhi.” Begitu kata Prof. Hasbullah.

Mengakhiri tulisan ini, sebagai seorang mantan perokok saya tahu dampak yang ditimbulkannya. Oleh sebab itu saya pun sepakat dengan prof. Hasbullah dan R. Renny Nurhasana bahwa cukai rokok harus tetap naik di masa pandemi dalam rangka mengurangi prevelensi perokok karena perokok menjadi surga bagi pernularan Covid-19. Ya, saat ini adalah momentum tepat untuk menaikkan cukai rokok.

Terima kasih telah membaca artikel ini. Semoga bermanfaat.

DISCLAIMER

“Saya sudah berbagi pengalaman pribadi untuk #putusinaja hubungan dengan rokok atau dorongan kepada pemerintah untuk #putusinaja kebijakan pengendalian tembakau yang ketat. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog serial #putusinaja yang diselenggarakan KBR (Kantor Berita Radio) dan Indonesian Social Blogpreneur ISB. Syaratnya, bisa Anda lihat di sini