Goresan Canting di Kampung Batik Tegalrejo YANG MENDUNIA

Tegalrejo terkenal di mana-mana bahkan mendunia. Selain karena potensi pariwisatanya yang eksotis, kampung ini dikenal juga dengan batik pewarna alamnya. Orang-orang mengenalnya dengan Batik Tegalrejo. 

Gold

Tegalrejo adalah satu dari 7 (tujuh) kampung yang berada di Kecamatan Gedangsari, Gunung Kidul. Secara geografis, lokasinya berada di paling ujung utara wilayah kabupaten Gunung Kidul, berbatasan langsung dengan kabupaten Klaten.

Untuk sampai ke kampung ini tidaklah sulit. Kampung Tegalrejo bisa diakses dari dua jalur yakni jalur bawah melalui Srowot atau Bayat, Klaten dan jalur atas lewat Wonosari. Kalau kamu ingin jalur jalan yang landai, kamu bisa lewat Srowot atau Bayat, Klaten. Selain jalannya lebar, lalu lintasnya juga tidak terlalu padat.  

Tetapi kalau kamu ingin memanjakan mata dengan melihat betapa “ijo royo-royo” wilayah Gunung Kidul di musim penghujan seperti saat ini, kamu bisa memilih jalur Wonosari. Kontur jalannya memang agak turun naik seperti di Puncak Bogor tetapi kamu akan melihat pemadangan yang indah sepanjang perjalanan.

Saya sudah beberapa ke kampung ini atau melewatinya terutama kalau ingin “kabur” dari penatnya rutinitas sembari menguji nyali dengan main flying fox di Green Village yang lokasinya tak jauh dari kampung ini. Biasanya saya lewat jalur bawah (Bayat) karena lebih dekat dari tempat tempat tinggal saya di Kalasan. Sesekali saja lewat Wonosari. Itu pun kalau ingin mampir ke rumah saudara yang ada di Playen. 

Nah, tentang Tegalrejo, apa sebenarnya yang menarik dari kampung ini?

Goresan Canting Di Kampung Batik Tegalrejo Yang Mendunia 1

Tegalrejo

1 of 1

PREDIKAT KAMPUNG BATIK DAN

BAROMETER INDUSTRI BATIK NUSANTARA

Gold

Salah satu hal menarik dari kampung Tegalrejo ini menurut saya adalah upayanya dalam melakukan transformasi untuk menjadi kampung yang lebih maju dan produktif. 

Bagaimana tidak, Tegalrejo dan kecamatan Gedangsari secara umum memang masih dianggap sebagai salah satu wilayah paling tertinggal di kabupaten Gunung Kidul, selain Saptosari dan Tanjungsari. Data BPS yang mengatakan begitu. Namun perlahan-lahan tetapi pasti, kampung dengan 11 dukuh ini berupaya mengejar ketertinggalan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya. 

Kini Tegalrejo semakin moncer dengan pariwisata serta industri batik tulisnya dan sering menjadi pemberitaan nasional maupun internasional. Pada tahun 2017 yang lalu, Tegalrejo bahkan mendapat predikat baru setelah dinobatkan sebagai Kampung Batik serta kampung Wisata Budaya Rintisan.

Saya ingat betul bahwa pemberian predikat tersebut bebarengan dengan gelaran “Pesona Gedangsari” yang dihadiri langsung oleh Gubernur DIY, Sri Sultan Hamenkubuwono X dan Bupati Gunung Kidul, Ibu Hj. Badingah, S.Sos.

Predikat baru ini memang sudah selanyaknya mengingat industri batik di Tegalrejo ini berkembang luar biasa dalam satu dasawarsa terakhir ini. Ini bisa dilihat dari munculnya sentra-sentra industri batik di kampung dengan penduduk tak lebih dari 2.216 jiwa ini.

Kalau kamu berkunjung ke sini, kamu akan mudah menemukan sentra-sentra batik tersebut. Dari gapura masuk desa yang kokoh melintang jalan pun sudah disambut dengan ucapan selamat datang tanpa meninggalkan kata batik. Bila masuk lagi ke tengah kampung dengan menyusuri jalanan beraspal yang sesekali turun dan naik, kamu juga akan melihat berbagai plang nama sentra-sentra batik berjajar di sepanjang jalan.

Ya, Industri kerajinan Batik Tegalrejo memang tengah populer bahkan telah menjadi baromater baru industri batik nusantara dan sering dijadikan tempat studi banting serta pelatihan para pengrajin batik dari berbagai wilayah lain di Indonesia. 

Namun siapa yang menyangka kalau industri batik di kampung ini pernah redup, seperti nyala lampu sentir yang kehabisan minyak.

Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1

PERNAH REDUP

SEBELUM TENAR BERSINAR

Gold

Beberapa waktu lalu sepulang dari menikmati eksotisme Curug 6 susun di perbatasan Tegalrejo-Bayat saya ketemu dengan Pak Surono di sebuah warung kopi. Pertemuan dengan beliau yang ternyata seorang dalang dan salah satu perintis usaha Batik Tegalrejo ini benar-benar tidak saya sengaja. Oleh Pak Surono, saya malah diajak ke rumah sekaligus workshopnya yang berada di dukuh Tembrono. Ah, ini pucuk dicinta ulam pun tiba, pikir saya. 

Sesampainya di rumah beliau, saya melihat beberapa wanita paruh baya tengah asik membatik dalam sebuah ruangan yang cukup lebar. Saya pun meminta ijin kepada Pak Surono untuk melihat-lihat dan mengambil beberapa foto.

Aroma khas lilin tercium begitu memasuki ruangan tersebut. Sesaat saya mengamati proses pembuatan batik tulis yang begitu rumit serta membutuhkan kesabaran luar biasa menurut saya. Pantas saja kalau selembar batik di Tegalrejo ini harga bisa sampai jutaan, pikir saya.

Setelah merasa cukup, saya pun diajak beliau ke ruang tamu yang juga dimanfaatkan sebagai showroom. Saya melihat beberapa lembar batik yang sudah jadi dalam berbagai motif yang menarik.

Ditemani makanan kecil dan teh panas, saya melanjutkan perbincangan dengan beliau. Dari beliau inilah saya tahu kalau sebenarnya industri batik di Tegalrejo pernah redup bahkan mati suri sebelum menjadi bersinar dan terkenal seperti saat ini.

Dulu kondisinya tidak seperti ini, Mas. Bahkan kalau saya bilang kerajinan batik di sini pernah ambruk atau mati suri. Sebenarnya ambruknya batik saat itu lebih disebabkan karena masyarakat lebih senang menjadi buruh batik di Bayat (kecamatan Bayat-Klaten) ketimbang menjadikan batik sebagai usaha sendiri. Padahal rata-rata masyarakat di sini dari anak kecil hingga dewasa itu mempunyai keahlian membatik secara turun temurun. Saya paham betul karena saya salah satu perintis batik di Tegalrejo ini. Saya sendiri menekuni batik sejak masih SMP.

  • – Begitu kata beliau yang merintis usaha batik sejak tahun 2000 dan telah menuai sukses dengan batik merek Kalimosodo miliknya.
Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1
Batik Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1
Bati Tegalrejo1

MENJADI PELOPOR

BATIK TULIS WARNA ALAM

Gold

Jujur saja bahwa setelah mendengar penjelasan Pak Surono tersebut membuat saya malah semakin tertarik dan penasaran dengan Batik Tegalrejo ini. Satu pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah bagaimana industri batik di kampung ini bisa bangkit kembali setelah mati suri selama puluhan tahun.

Namun sebelum pertanyaan itu terlontar dari mulut saya, Pak Surono malah lebih dulu menjelaskan. Ah, beliau ini seperti orang sakti yang tahu apa yang ada di benak saya.

Setelah ambruk cukup lama, Batik Tegalrejo akhirnya memang bisa bangkit lagi. Ini terjadi pasca gempa Bantul tahun 2006, Mas. Saat itu mulai muncul kesadaran dari pembatik untuk merintis usaha batik sendiri. Pemda DIY juga mendukung dalam bentuk pelatihan membatik dan pemasaran dalam Program Terpadu Pengentasan Kemiskinan oleh lintas sektoral di wilayah Kecamatan Gedangsari pada umumnya.

  • – Saya hanya manggut-manggut mendengar penjelasan beliau sembil menguyah keripik ketela yang juga buatan pengrajin di Tegalrejo.

Hal lain yang berkontribusi atas bangkit kembalinya Batik Tegalrejo ini adalah mulai dikenalnya pewarna alami oleh pengrajin, Mas. Pewarna alami ini diolah pengrajin dari tumbuh-tumbuhan yang ada di sekitar seperti kulit pohon jati dan mahoni, mangga, pace, daun indigofera, putri malu, bahkan daun jalawe yang dianggap angker oleh masyarakat di sini.

Bagusnya penggunaan pewarna alam ini adalah, selain ramah lingkungan warna batik yang dihasilkan juga lebih elegan dan tahan lama.

Kalau untuk batik tulis pewarna alam ini Tegalrejo bisa dibilang sebagai pelopornya, Mas. Kalau sekarang apa yang dipakai di Tegalrejo sudah banyak dicontoh oleh pengrajin lain di Indonesia. Lha wong mereka study bandingnya juga ke sini.

  • – Sambung beliau.

Menjawab pertanyaan saya terkait dengan ciri khas lain dari  Batik Tegalrejo ini, beliau pun dengan detail menjawabnya.

Ciri khas dan keunikan lain dari Batik Tegalrejo ini terletak pada motif dan coraknya. Sebenarnya di tegalrejo ini para pengrajin bebas membuat motif batik sendiri-sendiri, namun yang populer dan menjadi tonggak kebangkitan Batik Tegalrejo Gedangsari adalah motif batik Gedangsari I, Gedangsari II, Pring Sedapur, Sekaring Gedangsari, Jagading Gedangsari, dan Pring Seling Srikaya. Motif-motif batik tersebut mempunyai filosofi hidup yang menggambarkan kekayaan flora dan fauna khas Gunungkidul.

Perlu mas ketahui bahwa motif-motif tersebut adalah hasil karya para pengrajin sendiri melalui program pendampingan IKM Batik dan turunanya yang didukung para pengusaha batik hingga para desainer top Yogyakarta.

Itu tuh contohnya !

  • – Kata beliau sambil menunjuk beberapa motif Batik Tegalrejo yang tergantung rapi dinding showroom, buatan para pengrajin beliau sendiri.    
Produk Unggulan Batik Tegalrejo

JEJAK HARUM ASTRA

DI KAMPUNG TEGALREJO

Gold

Moncernya batik Tegalrejo hingga dinobatkan sebagai Kampung Batik memang tidak terjadi begitu saja. Selain karena semangat kerja keras para pengrajin dalam upaya memperbaiki taraf kehidupan, tak dinafikkan kalau ada peran serta dan sinergitas yang apik antara warga, pemerintah dan jejak swasta di dalamnya, salah satunya adalah ASTRA dengan program Kampung Berseri Astra (KBA). Ya, Tegalrejo dan kecamatan Gedangsari secara umum adalah salah satu wilayah binaan Astra melalui program ini.

Kampung Berseri Astra (KBA) sendiri merupakan program Kontribusi Sosial Berkelanjutan (CSR) dari Astra International. Program KBA yang digagas Astra ini mengimplementasikan konsep pengembangan terintegrasi melalui empat pilar. Keempat pilar program tersebut meliputi Pendidikan, Kewirausahaan, Lingkungan dan Kesehatan.

Melalui empat pilar ini, Desa Tegalrejo berkolaborasi dengan Astra untuk mewujudkan desa yang bersih, sehat, cerdas, dan produktif. Tujuannya adalah menciptakan kualitas hidup masyarakat yang ada di wilayah kampung binaan Astra ini lebih baik dan semakin meningkat.

Pilar Pendidikan

8 sekolah Binaan YPA-MDR
6 SD 1 SMP 1 SMK di Kecamatan Gedang Sari

Kewirausahaan

Branding Kampung dan wisata batik, memberdayakan UMKM Batik, wisata Budaya dan Kuliner

LINGKUNGAN

Penanaman sirsak, srikaya dan tananaman pewarna batik lain termasuk pembuatan pupuk cair

KESEHATAN

Pemeriksaan kesehatan balita dan lansia

Paud Mutiara Bunda Dokumentasi Kba Tegalrejo Gedangsari
Proses Pembuatan Pewarna Batik - Dok KBA Tegalrejo Gedangsari
Penanaman Pohon Sirsak dan Srikaya - Proses Pembuatan Pewarna Batik - Dok KBA Tegalrejo Gedangsari
Goresan Canting Di Kampung Batik Tegalrejo Yang Mendunia 2

Pemilihan Desa Tegalrejo sebagai Kampung Berseri Astra memang melalui tahapan dan pertimbangan tersendiri. Salah satunya adalah Tegalrejo ini memiliki banyak potensi besar yang bisa dikembangkan mulai dari kekayaan sumber daya alamnya hingga kehidupan sosial budaya masyarakat yang sudah begitu akrab dengan batik secara turun temurun.

Dari sini pula akhirnya muncul branding Kampung Batik yang menjadi destinasi wisata batik baik untuk tujuan edukasi (studi banding) maupun tempat belanja batik dan oleh-oleh khas Tegalrejo, Gedangsari, Gunung Kidul seperti saat ini.

Hadirnya KBA Tegalrejo Gedangsari ini memang dirasakan manfaatnya secara berkelanjutan oleh masyarakat. Apalagi program-program KBA ini saling bersinergi dalam memajukan industri batik di Tegalrejo. Bukan hanya menyentuh level pengrajin saja, namun juga pada dunia pendidikan di kampung ini dan Gedangsari secara umum. Batik yang menjadi keunggulan kampung ini secara intensif dikenalkan dan diajarkan di sekolah-sekolah sebagai muatan lokal dari mulai tingkat dasar hingga lanjutan.  

Sebelum pulang ke rumah, saya menyempatkan diri mengunjungi salah satu sekolah unggulan di sini yang menjadi binaan KBA yakni SMKN 2 Gedangsari. Jaraknya tak sampai 3 km dari rumah Pak Dalang Surono. 

Sayang sekali saat itu proses belajar mengajar sedang berlangsung. Namun demikian saya sempat bertemu dengan ibu Luckmy Lastin yang menjabat ketua Pokja Kurikulum di sekolah ini untuk bicang-bincang sekedarnya. 

Dari beliau saya pun mendapat informasi kalau hadirnya KBA bidang pendidikan ini  benar-benar membantu perkembangan sekolah secara signifikan. Support dan dukungan ASTRA pun sangat komplit dari kelengkapan insfrastruktur seperti mulai gedung, ruang laboratorium, perpustakaan, teaching factory dan lab komputer bahkan hingga membantu proses promosi dan pemasaran dengan memfasilitasi karya siswa dalam berbagai ajang pameran lokal dan nasional.

Gedung 2 untuk jurusan Tata Busana ini adalah salah satu bentuk support dan dukungan Astra, Mas. Semua fasilitas juga disediakan Astra mulai dari canting hingga wajannya. Siswa kami juga dibiayai, termasuk gurunya juga difasilitasi pelatihan hingga Jakarta. Semua Gratis, Mas.

- Kata wanita berhijab yang nampak selalu ceria ini. 

Sebelum saya pamit, beliau sempat mengatakan kalau sejak sekolahnya ada jurusan tata busana dan terkenal secara secara nasional juga karena sumbangsih Astra.

SMKN 2 Gedangsari
Bati Tegalrejo1