Lomba Blog Oh Lomba Blog

Tujuh bulan ngeblog dan mengikuti beberapa lomba blog saya mencatat beberapa hal menarik dan memberi kesan tersendiri bagi saya.

Sebenarnya secara psikologis saya itu kurang begitu confidence mengikuti lomba blog atau kompetisi blog dan sejenisnya. Saya merasa kalau aktivitas blogging yang awalnya hanya untuk seru-seruan saja telah menyeret saya dalam pergaulan dan persaingan yang sengit dan berdarah-darah.

Bagaimana tidak, saya harus bersaing dengan para blogger yang kenyang makan asam garam lomba-lomba blog di negara +62 ini untuk sebuah title sebagai pemenang lomba blog.

Ngeri-ngeri sedap juga bersaing dengan mereka. Saya bisa mengukur diri.

Kalau sesekali saya berhasil menjadi pemenang, itu bukan berarti artikel saya bagus. Lebih tepatnya yang lagi beruntung alias bejo saja. Mungkin karena artikel saya sesuai dengan syarat dan ketentuan lomba blog yang saya ikuti, atau entahlah.

..dan ini kesan-kesan saya.

Lomba Blog Itu Ternyata Tidak Mudah

Mau tak mau saya harus mengakui kalau mengikuti lomba blog itu sulit alias tidak mudah.

Energi saya terkuras untuk banyak hal mulai dari memahami pointer-pointer persyaratan lomba blog yang kadang “njlimet”. 

Setelah itu saya harus merangkai kata demi kata hingga menjadi sebuah artikel yang pantas untuk “diadu” di lintasan lomba.

Ada kalanya saya terbengong-bengong di depan laptop hanya untuk menemukan judul artikel yang asik dan mengawali paragraf pertama dengan baik. 

Keterbatasan kemampuan dalam hal literatur juga mengharuskan saya mencari dan membaca berbagai referensi untuk mengembangkan kalimat utama dalam setiap paragraf.

Swear. Nilai pelajaran Bahasa Indonesia saya dulu itu seringnya dapat angka 7, makanya hal ini tidak mudah bagi saya.

Tak hanya itu. saya juga harus mencari gambar pendukung, mendesain ulang hingga membuat infografis sederhana untuk mempertajam ulasan.

Itu juga masih belum cukup karena saya juga harus memikirkan layout halaman, menentukan warna sesuai dengan tema dan sebagainya.

Ya, menurut saya membuat artikel untuk lomba blog itu sulitnya bukan main dan sering membuat patah semangat.

Dinilai Juri Yang Tidak Objektif

Sepertinya ini memang tak masuk akal namun ini terjadi. Beberapa kali saya merasa kalau beberapa lomba blog ternyata dinilai oleh juri yang kurang objektif. 

Adakalanya saya melakukan analisis dengan membaca beberapa artikel peserta lomba blog secara random dan membandingkan dengan artikel pemenang.

Ternyata, ada juri yang memenangkan peserta lomba blog karena lokasinya dekat dengan penyelenggara. Tujuannya semata-mata agar mudah mengambil dokumentasi penyerahan hadiahnya.

Dalam beberapa kasus, pemenang lomba blog malah hampir (mau) difiktifkan. Saya tidak suudzon. Coba cari informasi kasus lomba blog Ch*tboti**. 

Ada juga yang mengatur sedemikian rupa (kolusi) agar pemenang lomba blog berasal dari “orang-orang terdekat” juri atau penyelenggara sendiri. Coba anda analisis sendiri pemenang lomba blog B*PB yang lagi ramai diprotes para blogger itu.

Pertanyaannya adalah, bolehkan juri lomba blog subyektif ?

Menurut saya tidak boleh !

Juri lomba blog itu ibarat hakim yang dinisbahkan sebagai “Wakil Tuhan” di dunia ini. Mereka memegang urusan keadilan sehingga harus menanggalkan segala atribut yang bernama subjektifitas.

Lain dari pada itu, secara tidak langsung juri lomba blog juga telah “disumpah”. Oleh siapa ? Yakni oleh syarat dan ketentuan lomba dengan poin-poin yang mengikat. Jadi, sedikit saja ada unsur subjektif dan tidak adil dalam menentukan pemenang lomba blog maka ia berarti telah menzalimi peserta.

Kalau ini terjadi, juri lomba blog akan menanggung “DOSA HAQQUL-ADAMI” (dosa kepada sesama manusia). Celakanya, dosa ini tidak akan diampuni Allah sebelum meminta maaf dan diberi maaf oleh orang-orang yang dizalimi. Berat, kan ?

Ada baiknya kalau blogger-blogger celebrity Indonesia atau entitas-entitas yang sering didaulat menjadi juri lomba blog memikirkan hal ini, bukan sekedar fee yang diterima saja. Wallahualam bissawab.

Realisasi Hadiah Lomba Blog Yang Lama 

Bagi yang pernah memenangkan lomba blog pasti pernah merasakan kalau realisasi hadiah sebagai besar lomba blog sangat lama.

Menurut saya ini aneh dan tidak masuk akal. Kenapa ?

90% penyelanggara lomba blog adalah sebuah insitusi (perusahaan) walaupun dalam pelaksanaanya bisa saja bekerja sama dengan agensi atau komunitas blogger.

Setahu saya, sebuah institusi itu bekerja mengikuti sistem kerja yang didasarkan pada planning. Setidak-tidaknya menjalankan proses POAC (Planning, Organizing, Actuating dan Controlling).

Artinya, lomba blog itu pelaksanaan program kerja yang umumnya sudah dirancang pada awal tahun (annual) atau per semeter atau setidak-tidaknya sebulan sebelumnya. Mestinya semua sudah ready sejak awal dari mulai konsep, publikasi hingga penganggarannya.  

Kalau menggunakan logika ini harusnya hadiah-hadiah lomba pun sudah tersedia dan langsung bisa direalisasikan, bahkan sehari setelah pemenang divalidasi.

Lalu kenapa realisasinya sampai berminggu-minggu.

Saya tidak tahu, namun bisa jadi institusi penyelenggara lomba blog masih lemah dalam sistem perencanaannya atau pelaksana orangnya yang memang seperti polisi India.

Mungkin juga uang hadiahnya dipergunakan dulu oleh agensi yang ditunjuk seperti kasus yang dialami salah satu blogger kenalan saya.

Sebenarnya Ini bisa menjadi preseden buruk dan kontraproduktif karena bisa dianggap sebagai gambaran kredibilitas institusi penyelenggara yang sesungguhnya.

(In Sha Allah bersambung)

 

Kamu butuh LISENSI DIVI Lifetime ?

Klik di sini