MAWAR MERAH, NEVER ENDING ROMANTIC!

Sembari ngopi dan ngemil di teras rumah, sesekali angan saya melambung jauh ke masa lalu. Kalau sudah begitu saya selalu disergap haru-biru yang datang tiba-tiba. Terbayang semua gambaran masa lalu saat saya masih kuliah dulu, seperti menari-nari di peluk mata.

Ya. Di bangku kuliah itulah saya merangkai penggalan-penggalan cerita hidup. Ada perih, duka dan bahagia. Semua membaur menjadi satu seperti permen nano-nano yang menyuguhkan rasa asem, asin dan manis di ujung lidah dalam sekali gigitan.

Cerita itu akan terpelihara selama nafas masih di kandung badan. Bukan hanya tentang lapar yang memaksa saya bertahan hidup dengan ngamen dari kampung ke kampung atau menjadi kernet angkot di malam hari, tetapi juga tentang bagaimana saya memperjuangkan cita-cita dan menemukan cinta.

Coffee

Jatuh Cinta (lagi) di Kampus Biru

Saya tak pernah menyangka kalau saya bisa jatuh cinta lagi saat di bangku kuliah. Sebenarnya hati ini sudah terluka. Kegagalan cinta pertama semasa SMA juga telah meninggalkan trauma yang membuat saya sulit untuk jatuh cinta lagi.

Saat itu, saya sudah menetapkan asa untuk menjemput suka dan menaklukkan duka bersamanya. Namun saya terpaksa mengubur dalam-dalam harapan itu. Pertengkaran demi pertengkaran terjadi karena rasa cemburu dan curiga yang menggagalkannya.

Saya seperti mengejar badai. Sekuat apa pun cara saya untuk mengalah dan mencoba memperbaikinya namun selalu berujung sia-sia. 

Saya pun tak berdaya manakala perpisahan menjadi pilihan terakhir setelah 3 tahun bersama-sama merajut cinta dalam bingkai asmara. Dunia seperti terbalik ketika itu terjadi karena saya lagi sayang-sayangnya.

Adakalanya saya berfikir bahwa apa yang terjadi itu mungkin bukan salah dia, tetapi sayalah yang bodoh karena terlalu mencintainya secara membabi-buta. 

Kegagalan cinta pertama itu benar-benar membuat hati begitu terluka. Bahkan entah apa yang merasuki, luka itu malah meracuni jiwa raga yang membuat saya sangat benci pada semua wanita. 

Love apart
Love apart

Namun, Maha Suci Allah yang membolak-balikkan hati hamba-Nya. Setelah bertahun-tahun lamanya saya masyuk memelihara benci dan luka, Allah malah mengirimkan penawarnya.

Tak bisa dilogika. Entah bagaimana cara kerjanya namun hati saya yang mengeras perlahan-perlahan melunak menerima kehadiran wanita. Tak ubahnya seperti batu yang tak berdaya menahan tetesan air dipermukaanya. 

Ya. Menjelang akhir studi saya di kampus biru Universitas Jember, Jawa Timur, saya merasa telah jatuh cinta lagi dengan teman kuliah. Yuni, namanya. 

Mahasiswi cantik kelahiran Brebes ini telah menawan hati saya. Saya suka kesederhanaanya. Saya suka gaya berbusananya yang anggun, keibuan dan memesona di mata saya. Saya pun suka caranya berbicara yang tenang dan santun serta renyah dalam bercanda. 

Rupanya intensitas pertemuan ketika kuliah dan aktifitas bersama telah menumbuhkan bibit-bibit cinta di hati ini. Saya dan dia memang tergabung di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) yang sama, yakni UKM Kesenian. 

Sejak wajahnya menghiasi dinding khayalku, saya jadi selalu merindu. Sehari saja tak berjumpa dengannya di kampus, sehari itu pula saya klimpungan memikirkannya. Bahkan saya bisa melakukan hal bodoh hanya sekedar ingin memandang wajahnya walaupun hanya sedetik saja.

Cinta memang ajaib dan tak bisa dilogika. Seperti datangnya cinta pertama dulu, saya pun menjadi melankolis dan romantis. Entah sudah berapa banyak bait-bait puisi dan syarir lagu cinta yang saya tulis. Semua hanya tentang dia. 

Ironisnya, puisi dan syair itu hanya menghiasi dinding kamar kost yang lebarnya tak lebih dari 3 x 3m atau sekedar menjadi pembatas baca yang mengisi sela-sela buku dan diktat kuliah semata.

Ya. Saya lebih memilih menyimpan rasa itu sendiri sebagai sebuah cinta rahasia.

Entahlah, saat itu saya masih jerih dan tak bernyali untuk mengungkapkan perasaan. Ada benih-benih cinta di hati saya namun di saat yang sama saya juga masih takut untuk kecewa. 

Mawar Merah Never Ending Romantic 1
Pesawat Kertas
Heart

Di Bawah Rintik Hujan Bulan Pebruari Momen Itu Tiba

Berminggu-minggu lamanya saya berusaha meyakinkan diri kalau saya memang sedang jatuh cinta. Hingga pada suatu ketika saya merasa yakin kalau saya memang sedang jatuh cinta kepadanya.

Bertepatan dengan hari valentine momen itu pun tiba. Di bawah rintik hujan bulan Pebruari dan temaram lampu taman kampus Fakultas Hukum, saya hentikan langkahnya dan mengajaknya duduk sejenak di kursi taman. 

Saya tak menghiraukan lalu lalang para mahasiswa yang berjalan pulang atau kekagetannya dengan tanya ada apa.

{

Ada apa ?

– Tanya dia dengan lembut.

Saya menghela napas panjang. Dia tak tahu kalau saya sedang mengumpulkan keberanian dan berusaha mengingat kembali rangkaian kata yang telah saya persiapkan. Dengan tangan gemetar saya mengeluarkan sekumtum mawar merah dari dalam tas kuliah dan menyerahkan kepadanya lalu berkata,

{

Yun, saya tidak tahu apakah ini momen yang tepat atau bukan. Namun saya harus katakan kalau sejujurnya saya telah jatuh cinta padamu. Maukah engkau memberi kesempatan padaku untuk mencitaimu dan menjalani hari-hari bersamaku? 

– Kataku begitu kaku dengan kalimat yang terbata-bata seperti anak kecil yang lagi belajar mengeja aksara.

Dia menerima mawar merah itu namun menggeser posisi duduknya sedikit menjauh dengan tatapan yang sulit saya terka. Tak kuasa saya menatapnya, saya pun menundukkan wajah dengan dada berdegup kencang. 

{

…maaf…maaf!

– kataku lirih dengan wajah tertunduk dan perasaan yang semakin tak menentu.

Sesaat, saya dan dia sama-sama terjebak dalam diam dan membeku. Udara terasa semakin dingin. Rintik hujan pun seperti ribuan paku yang menghujam wajah dan tangan.

{

Ya, Saya mau.

Ah, betapa kaget dan bahagianya saya mendengar jawabannya saat itu. Jawaban yang tidak pernah saya duga.

Saking bahagianya, tanpa terencana saya menggapai kedua tangannya seperti adegan di film-film India. Saya memandanginya dengan tersenyum. Dalam temaran lampu taman, saya pun melihatnya tersenyum. Senyuman paling menawan di malam itu. 

Ya. Momen itu adalah awal segalanya. Saya dan dia telah resmi berada dalam ikatan cinta, melawati hari-hari bersama dan selalu rela berbagi suka maupun duka. Andai saja Dewi Kamaratih dan Kamajaya adalah nyata, saya yakin mereka juga akan bahagia dan merestuinya.

Ring

14 Pebruari 2002, Saya Menghalalkannya

Jodoh memang rahasia Allah semata, penuh misteri dan tak bisa disangka-sangka. Dulu saya berfikir bahwa cinta pertama itulah jodoh saya, namun ternyata salah. Allah berkenan memberi jodoh terbaik dengan mempertemukan saya dengan yang kedua.

Seperti saat pertama saya mengungkapkan rasa cinta padanya, tepat di hari Valentine tanggal 14 bulan 02 tahun 2002 saya menghalalkannya.

Di depan penghulu dan saksi, saya mengucapkan “qobiltu nikahaha”. Di depan penghulu dan saksi pula saya  berikhrar setia dan berjanji sehidup semati untuk membina keluarga bahagia dalam satu ikatan pernikahan yang suci bersamanya.

Setelah sah menyandang status sebagai seorang istri, saya mengajaknya “njajah desa milang kori” mengikuti ke mana pun saya pergi mencari rejeki halal yang Allah sediakan mulai dari Brebes, Purwokerto, Kudus, Mayong Jepara dan saat ini terdampar syahdu di Kalasan, Sleman, Yogyakarta.

Tak hanya itu, dia pun memberi kebahagian yang tiada tara. Dari rahimnya Allah menitipkan 3 (tiga) orang anak yang sehat, cerdas, saleh dan salihah.

Si sulung Arya kini sudah kelas 11 SMK, Ayunda, anak perempuan satu-satunya sudah duduk di kelas 6 SD dan Si bungsu Amarendra, kini berusia 19 bulan dan sedang lucu-lucunya.

 

 

My Kids

Never Ending Romantic:
Romantika Cinta Tak Kenal Usia

Putaran waktu terasa begitu cepat. Sepertinya baru kemarin-kemarin saya mengutarakan cinta dan menikahinya. Tanpa terasa tahun ini telah memasuki usia 18 tahun kebersamaan itu. 

Selama itu pula saya dan dia mendayung bahtera rumah tangga bersama, memecah riak dan gelombang serta menaklukkan hembusan angin kencang dalam samudera kehidupan. 

Saya bersyukur kepada Illahi Robbi yang telah mengiriman wanita terbaik bagi jiwa yang rapuh ini. Bila bidadari tak bersayap itu mempunyai rupa, mungkin dialah salah satunya. 

Bagi saya, dia bukan hanya seorang istri tetapi juga belahan jiwa. Dia juga seorang teman dan sahabat yang selalu menyediakan pangkuannya untuk saya berkeluh kesah, berdiskusi dan mendapatkan semangat baru ketika jiwa dan raga ini terbentur lelah dengan berbagai persoalan hidup.

Sebagai seorang suami, saya pun ingin selalu membuatnya tertawa dan bahagia. Bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hidup tetapi juga memberikan kasih dan sayang  serta cinta yang tulus untuknya.

Cinta saya kepadanya tidak pernah berubah sedikit pun. Tetap sama seperti dulu. Hingga saat ini saya masih mengajaknya gitaran bareng di teras rumah, menyanyikan lagu Teardrops-nya The Radios. Ini adalah lagu “kebangsaan cinta” kami berdua sejak kuliah.

Di akhir lagu, biasanya saya selalu mencium kening lalu bilang cinta kepadanya, dan dia pun melakukan hal yang sama. 

Ya, saya dan dia sama-sama menua namun romantika cinta itu tetap terpelihara. Saya yakin itulah perekat kebersamaan saya dan dia hingga sejauh ini, bahkan hingga seribu tahun lagi lamanya.

Never ending romantic, itu kata saya.

Kejutan Valentine dan Anniversary Pernikahan Untuknya

Ajak Liburan dan

Makan Malam Romantis

Dulu, pilihan menikah tepat di hari Valentine adalah kesepakatan berdua.

Tentu saja ini bukan sekedar keinginan semata akan tetapi teriring juga doa dan harapan bahwa pernikahan tersebut akan langgeng dan penuh kasih sayang selamanya. Setidaknya filosofi ini menjadi semacam kekuatan moral yang semakin merekatkan cinta kami berdua.

Nah, Valentine bulan depan ini bersamaan dengan anniversary pernikahan ke-18 dan 20 tahun kebersamaan saya dengannya.

Seperti tahun-tahun kemarin, sudah tentu saya tak ingin melewatkan momen tersebut begitu saja. Tahun ini pun sebenarnya saya telah mempersiapkan kejutan kecil untuknya.

Saya ingin mengajaknya berlibur dan menginap di sebuah hotel yang berada di tengah kota Jogja bersama keluarga. Malamnya saya ingin mengajaknya makan malam romantis sembari menyaksikan live music spesial Valentine yang menyajikan lagu-lagu cinta.

Tanpa sepengetahuan dia, saya bahkan sudah melakukan reservasi hotel dan tempat dinner spesial valentine secara online jauh-jauh hari. 

Ya. Ini biasa saya lakukan karena kalau musim liburan atau momen-momen tertentu seperti Valentine misalnya, tingkat hunian hotel dan tempat-tempat romantis di Jogja sangat tinggi bahkan bisa 100%.

Maka, kalau tidak pesan lebih awal bisa-bisa keduluan orang lain yang ingin merayakan hari valentine di tempat yang sama.

Dinner

Semakin Romantis dengan

Bunga Mawar Merah

Tak hanya itu. Saya ingin dinner valentine yang saya rencanakan nanti semakin romantis dan menjadi pengalaman indah dan terlupakan baginya.

Untuk itu, saya pun mempersiapkan kejutan lain yang tak kalah romantis. Salah satunya adalah memberikan hadiah Buket Bunga Valentine mawar merah sebagai tanda cinta padanya.

Ya. Saya ingin mengulang kembali kejadian 20 tahun lalu, saat saya menyatakan cinta kepadanya. Di malam yang syahdu itu saya menembaknya dengan kata cinta dan sekumtum mawah merah.

Maka ketika Teardrops-nya The Radios menjadi lagu kebangsaan cinta, mawar merah juga mempunyai makna yang tak kalah penting bagi saya. 

Mawar merah telah menjadi simbol romantika cintaku dan cintanya. Cinta yang selalu harum semerbak dan tak akan pernah berakhir. Apalagi dia memang penyuka mawar merah selain anggrek putih dan tulip.

Seperti halnya saat reservasi hotel, buket bunga valentine mawar merah ini juga saya beli secara online karena lebih mudah.

Mawar

Saatnya Ciptakan Momen Indah dan Spesial Bersama FlowerAdvisor.co.id

Sebentar lagi hari Valentine, hari kasih sayang. Mari kita ciptakan momen romantis dan spesial yang tak terlupakan bagi orang-orang terkasih. 

Bunga, hadiah atau parcel adalah salah satu cara untuk menciptakan momen romantis dan spesial itu.

Akhirnya, terima kasih telah telah meluangkan waktu membaca artikel ini. 

Harapan saya, semoga artikel ini bermanfaat bagi pembaca yang ingin  merayakan momen-momen spesial dan romantis. Saya pamit!

Related Post

Menebar Kebaikan di Tengah Pandemi

Menebar Kebaikan di Tengah Pandemi Menebar kebaikan itu seperti menanam bibit pohon buah-buahan. Akarnya menjalar ke mana-mana menemukan jalan...