Memperkuat Akar Budaya Jogja Dengan Teknologi Informasi

Dua dekade lalu ketika teknologi masih serba analog, orang-orang masih sangat terbatas dalam mendapatkan berbagai informasi tentang budaya, kebiasaan dan adat istiadat sebuah daerah. Media-media yang ada saat itu pun sangat terbatas mengulas dan memberitakan. Kalau toh pun ada, selain bersifat segmented juga tidak semua orang bisa mendapatkan informasi secara komprehensif bahkan real time.

Saya mengalami hidup di jaman itu, jaman di mana mesin ketik masih menjadi andalan untuk membuat laporan dan tugas-tugas kuliah. Jaman di mana komputer hanya tersedia di rental-rental dengan biaya sewa Rp 200 per jam dan Internet masih belum sepopuler sekarang. 

Untuk mendapatkan informasi dan referensi tentang Tugu Jogja saja misalnya, satu-satunya media digital yang bisa saya manfaatkan adalah Encarta Encyclopedia yakni ensiklopedia digital multimedia buatan Microsoft Corporation yang data basenya masih offline dalam bentuk DVD-ROM atau CD-ROM

Jaman itu, tak semua tempat mempunyai ensiklopedia digital ini. Seingat saya teknologi ini hanya dimiliki oleh perpustakaan universitas saja. Untuk bisa mengakses serta mencetak referensi yang saya butuhkan, saya pun harus antri hingga dua hari dengan biaya cetak yang telah ditentukan. 

Encarta

Era Internet, Semuanya Serba Mudah

Beda dulu beda pula dengan sekarang. Informasi apa pun kini tak lagi sulit.

Revolusi teknologi informasi digital sejak munculnya ARPA (Advanced Research Projects Agency)  sebagai menjadi cikal lahirnya internet (1982) telah memudahkan segalanya bahkan telah mengubah wajah dunia.

Sadar atau tidak, saat ini kita itu hidup seperti dalam perkampungan besar dunia di mana limitasi geografis antar bangsa, antar wilayah dan antar individu (Borderless World).

Tak ada entitas yang benar-benar tersembunyi. Hampir semua entitas terkoneksi secara digital dalam sebuah jaringan yang bernama internet.

Dengan internet ini pula orang semakin mudah mengakses dan mendapatkan berbagai informasi secara real time tanpa harus keluar rumah, bahkan hanya dengan memainkan jarinya di atas layar sebuah smartphone (Life is in a hand).

Buktinya, kalau dulu saya empot-empotan hanya untuk mendapatkan selembar gambar Tugu Jogja, kini ribuan gambar bisa saya dapatkan dengan mudah kapan saja dalam berbagai angle.

Begitu pula, kalau dulu orang-orang terasa sulit mendapatkan informasi tentang adat istiadat dan budaya Jogja, saat ini berbagi informasi komprehensif tentangnya mudah didapatkan. Tak butuh waktu lama, Informasi tersebut bisa didapat dalam hitungan detik sembari minum kopi di teras rumah atau malah sambil rebahan di kamar tidur.

Informasi yang didapatkan pun bukan hanya sebatas tektual berupa ulasan berita baik dalam website, blog dan media sosial namun juga berupa foto, video, animasi, peta 3D dan lain sebagainya. 

Kemudahan mendapat informasi ini adalah salah satu dampak positif dari majunya teknologi informasi yang secara masif juga merubah cara pandang penduduk bumi. 

Aplikasi Jogja Istimewa, Melihat Jogja Dalam Format Digital

Pemerintah Yogyakarta memahami perubahan cara pandang masyarakat dalam mendapatkan berbagai informasi. Perkembangan teknologi informasi pun dimanfaatkan untuk mengenalkan warna-warni Jogja yang istimewa.

Kalau kita membuka play google dari android dan mengetik keyword “Jogja Istimewa”, maka kita akan menemukan sebuah aplikasi yang bernama sama, diantara aplikasi-aplikasi yang menggunakan kata jogja.

Aplikasi yang yang hadir sejak 2016 ini didevelop oleh pemda DIY melalui Depkominfo DIY yang bekerjasama dengan gamatechno.

Aplikasi mobile Jogja Istimewa yang sudah diunduh sebanyak 50.000 kali lebih ini menyajikan informasi yang komprehensif. 12 fitur yang ada merupakan rangkuman dari 97% Yogyakarta itu sendiri. 

Ini fitur-fiturnya.

Aplikasi Jogja Istimewa, Salah Satu Cara Memperkuat Akar Budaya Lokal Jogja

Hadirnya aplikasi Jogja Istimewa ini semakin menegaskan eksistensi Jogja sebagai kota yang berbudaya, maju, mandiri dan sejahtera dan mampu menyongsong peradaban baru tanpa menghilangkan keunikan karakter dan akar budaya lokalnya.

Melihat satu per satu fitur yang ada, terutama pada fitur Jogja budaya dan Jogja wisata kita akan melihat kalau Jogja itu memiliki akar budaya unik.

Ya. Jogja itu unik. Kediriannya dibangun dengan berbagai ragam budaya, identitas dan filosopi yang mengakar dalam kehidupan warganya.

Dengan berbagai filosopi yang dimilikinya, Jogja bahkan mempunyai julukan baru yakni sebagai¬†‚ÄúThe City of Philoshopy‚ÄĚ.

Julukan ini melengkapi julukan-julukan yang ada sebelumnya seperti sebagai kota budaya, kota pendidikan dan puluhan julukan serta identitas lainnya. Julukan baru sebagai kota filosopi ini bahkan telah masuk dalam daftar warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Ada berbagai filosofi yang hidup di tengah masyarakat dan menjadi akar budaya kedirian Jogja, tiga berikut ini diantaranya.

1. Peta Sumbu Filosofi Keraton Yogyakarta

Tahukah anda kalau ada garis lurus imajiner yang menghubungkan Yogyakarta ? Ya. Ini bukan hal yang mengada-ada karena telah di buktikan melalui beberapa penelitian

Peta sumbu filosofi keraton Jogja adalah salah satu filosofi yang terpelihara hingga saat ini. Peta sumbu ini menggambarkan bahwa kedirian Jogja itu tak lepas dari 7 ikonik yang terhubung dengan garis lurus imaginer dari Utara ke Selatan.

Garis ini menghubungkan Gunung Merapi, Tugu Pal Putih Yogyakarta, Alun-Alu Utara, Keraton, Alun-Alun Selatan, Panggung Krapyak hingga laut Pantai Selatan.

Selain menghubungkan elemen-elemen ikonik Jogja, garis lurus ini juga diyakini menggambarkan sebuah anak panah yang besar di mana busurnya adalah candi-candi yang ada di jawa tengah, yaitu candi prambanan (Klaten-Yogyakarta) dan candi borobudur (Magelang). 

Apa makna filosopi ini ?

Peta sumbu ini mengandung makna filosofi yang unik yakni gambaran konsep mikrosmos alam kehidupan nyata yang menjadi laku peziarahan manusia.

Selaras dengan hal tersebut, Bapak Yuwono Sri Suwito, MM, yang saat ini menjabat sebgai Ketua Dewan Pertimbangan Pelestarian Warisan Budaya (DP2WB), pernah mengatakan¬†bahwa garis lurus yang menghubungkan elemen-elemen tersebut mempunyai makna “keutamaan”.

Ini merujuk pada jalan, utamanya dua jalan dari tugu Jogja hingga titik nol kilometer yang melewati jalan Margotomo (dulu Jalan Pangeran Mangkubumi) dan Malioboro. Margotomo dan jalan yang harus dilewati dengan obor (malioboro) dimaknai sebagai panduan ajaran Walisongo.

Sedangkan jalan penghubung Panggung Krapyak dengan Plengkung Gading atau Alun-alun Selatan, adalah Margomulyo dan Pangiraan. Maknanya jalan menuju kemuliaan (Margomulyo) dan jalan yang harus dilewati dengan pengetahuan. Menarik, bukan ?

Untuk memperkuat sumbu filosofi yang menjadi akar budaya Jogja ini, Dinas Kominfo DIY pun tengah memasukan dalam roadmap program pengembangan Jogja Smart Province (JSP) sejak tahun 2018.

Roadmap pengembangan Jogja Smart Province ini memadukan unsur budaya dan teknologi (Culture and Tecnology) menuju Jogja Smart Culture, Smart Governance, Smart Living, Smart Environment dan Smart Society.

Melengkapi hal itu, Diskominfo DIY juga memasang fasilitas Wi-Fi gratis di 50 titik strategis terutama kawasan lintas sumbu filosofi agar masyarakat mudah mengakses informasi tentang Jogja melalui internet dan membagikannya kepada dunia.

2. Jogja Itu Kota Sakral

Secara geografis, selain terhubung dalam garis lurus imajiner Yogyakarta juga diapit oleh gunung dan lautan serta mempunya sungai-sungai legendaris seperti sungai Winongo di bagian barat, Sungai code, Gajah Wong, dan lain sebagainya.

Nah, menurut kepercayaan Hindu sebelum datangnya Islam, kota yang mempunyai elemen-elemen tersebut secara filosofi adalah sakral dan istimewa yang terus terpelihara hingga kini.

Ya, Yogyakarta memang istimewa. Di tengah modernitas, Jogja mampu mempertahankan kearifan budaya lokalnya yang adiluhung, bersanding dengan budaya kekinian.

Lihat saja, di pusat kota terdapat keraton Ngayogjokarto Hadiningrat yang merupakan simbol kerajaan di masa lalu dengan segala keunikan tradisi dan budaya Jawa sedangkan di bagian utara merupakan wilayah kota yang modern.

Berbagai macam kearifan lokal masih terpelihara lestari turun temurun hingga kini mulai dari adat istiadat, kesenian, makanan khas, keelokan alam hingga keramahan dan kesederhanaan warganya.

Setiap entitas yang menghuni Jogja mempunyai komitmen untuk sama-sama berpartisipasi menjaga, melestarikan, melindungi nilai-nilai budaya dan kearifan lokal tersebut.

3. Kelapa Gading dan Burung Tekukur

Yogyakarta juga mempunyai jenis flora dan fauna khas yang mempunyai filosofinya sendiri, sebut saja seperti pohon kelapa gading dan burung tekukur.

Kelapa gading ini akrab dengan masyarakat Jogja dan menjadi salah satu perlengkapan dalam upacara-upacara adat keraton.

Pohon kelapa gading yang berwarna kuning ini mempunyai makna filosofi kebermanfaatan selaras dengan manfaat buah, batang dan ijuknya dari mulai sebagai hiasan hingga obat.

Begitu pula dengan burung tekukur. Suara merdu dan tubuh indah ini mempunyai makna filosofi kedamaian. Maka tak heran burung ini menjadi kesayangan para pangeran dilingkungan keraton dan juga oleh masyarakat luas.

Ya. Tentu saja filosofi-filosofi di atas hanyalah bagian kecil darifilosofi yang hidup ditengah-tengah kehidupan warga Jogja yang istimewa. Dan percayalah, bahwa masih ada puluhan filosofi yang menjadi akar budaya Jogja dan terpelihara hingga saat ini.

 

Terima kasih telah membaca artikel singkat berjudul “Memperkuat Akar Budaya Jogja Dengan Teknologi Informasi” ini.

Tulisan ini saya maksudkan sebagai salah satu cara saya ambil bagian kecil dalam memperkuat akar budaya lokal Jogja kepada dunia dengan teknologi informasi, utama melalui media blog. 

Semoga bermanfaat untuk Jogja yang semakin istimewa. Saya pamit.

Tunggu Dulu, Teman.

Mohon Kerendahan Hati Teman-teman

Artikel Saya di Writing-contest.bisnis.com

UNTUK BANTU NGE-VOTE

MASIH ADA YANG KURANG, NIH !

Vote Artikel &Thanks