Menebar Kebaikan di Tengah Pandemi

Menebar kebaikan itu seperti menanam bibit pohon buah-buahan. Akarnya menjalar ke mana-mana menemukan jalan berkahnya sendiri-sendiri dan mendatangkan buah kebaikan yang lain bagi pemiliknya.

Tahun ini menjadi tahun yang berat bagi kehidupan. Atas kuasa-Nya, Allah SWT menurunkan ujian dan cobaan pada manusia dengan pandemi virus mematikan, yang oleh WHO disebut Covid-19 (Corona Virus Disease 2019).

Sejak terdeteksi di Wuhan akhir tahun lalu, dalam sekejap virus ini menyebar keseluruh dunia dan memunculkan ketakutan global. Hanya beberapa gelintir negara saja yang (masih) belum tersentuh virus yang konon berasal dari kelelawar ini.

Pemberitaaan Wuhan itu sebenarnya membuat saya gelisah. Dalam benak saya, cepat atau lambat virus ini pasti masuk ke Indonesia karena posisinya yang berada di tengah perlintasan dunia.

Dan benar saja. Kegelisahan saya tersebut terjawab ketika pada tanggal 2 Maret 2020 Bapak Presiden RI, Joko Widodo, mengumumkan dua kasus pertama Covid-19 melalui sebuah siaran televisi.

Seperti bom waktu, sejak saat itu kita terus disajikan berita memilukan setiap hari. Mereka yang terinfeksi dan meninggal terus bertambah. Tak pilih kasih, virus ini mengintai siapa saja tak perduli kaya atau miskin, pejabat atau rakyat jelata. 

Saya pernah berharap ini hanyalah mimpi buruk semata yang sirna ketika terbangun dari tidur. Namun nyatanya tidak. Teror Covid-19 ini nyata, malah semakin menjadi-jadi. Jalan terang pun masih belum kelihatan karena si penawar belum terpegang tangan. 

Serba Sulit.

Bukan hanya saya saja yang merasakan bahwa sejak virus ini dinyatakan sebagai pandemi segala sesuatu menjadi serba sulit. Orang-orang pun takut beraktivitas di luar rumah, walaupun hanya sekedar untuk ke rumah tetangga, sanak famili dan saudara.

gendong

Ya, siapa yang tidak takut. Itu wajar menurut saya karena mereka yang tertular pun nampak sehat-sehat saja, tidak menunjukan gejala infeksi secara umum seperti demam dan sesak napas. Dalam banyak kasus, mereka yang terinfeksi dan meninggal bahkan tidak menunjukkan gejala infeksi sama sekali (asimtomatik) dalam 14 hari masa inkubasi virus ini.

Apakah ada jaminan kita tidak membawa virus ini ke rumah dan menularkannya kepada seluruh anggota keluarga setelah berbelanja di pasar, warung atau minimarket?

Ketakutan ini Covid-19 tak berdampak negatif pada semua sektor, lebih-lebih sektor ekonomi. Banyak perusahaan yang akhirnya memilih meliburkan karyawannya.

Tentu saja ini menyebabkan mata rantai produksi dan pengiriman (supply chain) menjadi terganggu yang secara signifikan memicu inflasi dan naiknya harga-harga kebutuhan pokok.

Di sisi lain, pendapatan masyarakat yang berkerja di sektor informal pun turun drastis bahkan zero income sama sekali. Ditambah dengan kenaikkan harga-harga, ini menjadi kombinasi sempurna turunnya daya beli masyarakat.

Akibatnya, ekonomi berjalan terseok-seok seperti pedati kehilangan satu rodanya. Banyak warung, toko, pasar dan pusat-pusat ekonomi rakyat tutup.

Ini fakta!

Lockdown Parsial

Kondisi ekonomi rakyat pun semakin terpuruk dengan penerapan kebijakan Work from Home (WFH-#dirumahaja), Lockdown Parsial dan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB). Di satu sisi kebijakan ini memang dirasa efektif memutus mata rantai penyebaran virus namun di sisi lain juga memunculkan masalah baru bagi masyarakat secara ekonomis.

Saya sendiri merasakan dampak dari kondisi ini. Setelah akses jalan di kampung saya ditutup, warung saya kian sepi pembeli. Alih-alih untung, modal saja sulit untuk kembali. Barang dagangan pun terpaksa dikonsumsi sendiri untuk bertahan hidup dan saya berikan ke tetangga kanan-kiri.

Kondisi yang tak jauh berbeda juga di alami tetangga yang lain di kampung. Pak Heri yang tinggal tak jauh dari tempat saya salah satu contohnya. Belum lama ini beliau bahkan “dirumahkan” dari tempat kerjanya karena perusahaan tidak mampu lagi berproduksi.

“Berat sekali, Om. Hari ini mungkin masih bisa makan. Besok sudah terserah Tuhan.” Kata beliau yang kini mencoba bertahan hidup dengan menjual jajanan pasar di depan rumah bermodalkan uang tali asih yang diperolehnya karena bantuan dari pemerintah belum pernah sekali pun beliau terima.

Daun1
Daun2

Menebar Kebaikan dengan Berbagi

Dalam kondisi seperti ini empati, simpati dan saling menguatkan satu sama lain untuk membangun semangat hidup memang dibutuhkan, namun lebih penting dari itu adalah aksi nyata yakni #menebarkebaikan dengan berbagi.

Perut kosong bisa jadi menjadi alasan orang tidak lagi berfikir logis. Siapa yang tak merinding mendengar penuturan Pak Atek, warga kelurahan Sari Rejo, Medan Polonia, Sumatera Utara (Sumut), yang diamuk massa setelah mencuri 5 Kg beras (18/4/2020).   

“Aku terpaksa mencuri beras karena tidak tahan menahan rasa kelaparan. Tidak ada lagi beras apalagi ikan di rumah. Bantuan beras dari pemerintah sebanyak 5 kilogram (kg) memang ada. Tapi beras itu sudah saya kasih kepada istri untuk bisa dikonsumsi bersama tiga anak kami. Mereka tinggal di rumah mertua,” ujarnya.

Saya yakin, ada banyak kejadian serupa di luar sana yang tak terekspose media. Masalahnya, tegakah kita melihat hal seperti ini? Rasa-rasanya kita akan berdosa kalau ini terjadi lagi, lebih-lebih di lingkungan tempat tinggal kita sendiri.  

Saat ini adalah saat yang tepat untuk menebar kebaikan dengan berbagi kepada mereka yang terdampak pandemi. Ini bukan masalah jumlah. Berapa pun dan apa pun yang kita ulurkan pasti akan sangat membantu mereka. 

Percayalah bahwa menebar kebaikan itu amalan kebajikan yang memiliki dimensi dua arah sekaligus. Di satu isi bermakna memberi (give) dan di sisi lain adalah menerima (take). Apa itu, yakni kebahagiaan. 

Ya, esensi menebar kebaikan adalah berbagi kebahagiaan. Tentang pahala kabajikan, biarlah itu menjadi urusan-Nya karena hanya Dia yang mengetahui hitung-hitungannya.

Bagi saya, menebar kebaikan itu seperti menanam bibit pohon buah-buahan. Akarnya menjalar ke mana-mana menemukan jalan berkahnya sendiri-sendiri dan mendatangkan buah kebaikan yang lain bagi pemiliknya.

Dengan menebar kebaikan berarti kita telah menjalankan kodrat sebagai makhluk sosial sekaligus juga sebagai bentuk rasa syukur atas apa yang telah Allah berikan.

Nah, di tengah pandemi seperti ini, bagaimana cara kita menebar kebaikan?

Garpu
sendok
Masker

01

Berbagi Semangat dan Nasihat

Cara paling sederhana yang bisa kita lakukan di saat ini adalah dengan berbagi kesadaran, saling memberi semangat dan mengingatkan serta nasihat-menasihati agar mengikuti anjuran pemerintah untuk mencucui tangan dengan sabun, memakai masker dan tetap menjaga jarak aman (physical distancing) dalam berinteraksi. 

Di samping itu, ada baiknya kita saling mengingatkan untuk #tundamudik dulu agar tidak tertular atau bahkan menularkan virus mematikan ini kepada orang-orang terdekat kita. 

Nampak sepele memang, namun menurut saya ini penting mengingat belum juga ada indikasi penurunan jumlah mereka yang terinfeksi dan jumlah kematian karena Covid-19 di negara kita ini.

02

Berbagi Materi

Selain nasehat, hal yang dilakukan untuk membantu mereka yang terdampak pandemi adalah berbagi melalui materi yang kita miliki. Tak melulu harus berupa uang, boleh jadi berupa barang yang mereka butuhkan.

Cobalah tengok apa yang dilakukan oleh Ardiati Bima, warga Rajek Lor, Sleman, Yogyakarta, yang berjarak setengah jam perjalanan dari tempat tinggal saya di Kalasan.

Ibu rumah tangga ini menebar kebaikan dengan cara yang unik. Ia menggantungkan bukusan plastik berisi sembako di bambu yang melintang di jalan kampung disertai tulisan “Sumonggo bagi yang membutuhkan” (Silahkan bagi yang membutuhkan).

Tak jauh dari paket sembako tersebut terdapat juga selembar tulisan yang berisi ajakan, “Dengan senang hati dipersilahkan juga yang mau ikut menambah / memberi di sini.  Ada juga gunting kecil menjuntai yang bisa digunakan siapa saja yang mau mengambil bahan makanan yang ada di situ, terutama warga yang terdampak Covid-19.

Hari pertama Ardiati hanya mencantelkan 4 bungkus sembako berisi telur, mie instan, gula dan hasil kebun yang dimilikinya. Ia lalu memasang status di WA dengan harapan ada tetangga yang membutuhkan.

Tanpa diduga, status WA tersebut malah mendorong tetangga lainnya ikut menitipkan paket serupa seperti beras, telur, minyak, sayuran, bumbu, kelapa, pepaya dan lain sebagainya. Bahkan ada yang menitip uang untuk dibelanjakan sembako yang akan dicantelkan.

“Saya kepikiran justru golongan menengah bawah yang punya kewajiban BPJS mandiri yang harus tetep bayar penuh, listrik bayar penuh dan lain-lain. Karena dia gak kerja, otomatis kewajiban tetap ada, tapi penghasilan gak ada,” begitu kata Ardiati.

Selama 15 hari, Ardiati menyebut sudah ada sekitar 7 orang donatur dari tetangga, teman kuliah, maupun kenalannyayang menitipkan bahan makanan atau uang.

Unik, bukan? 

sayuran
sayuran

Apa yang dilakukan Ardiati ini menginspirasi banyak orang untuk terus menebar kebaikan, gotong royong dan berbagi di masa sulit seperti saat ini.

 Salah satunya adalah anak perempuan saya, Ayunda. 

Di balik sikapnya yang keras, ayunda yang masih duduk di kelas 6 SD ini memang mempunyai hati yang lembut dan mudah tersentuh. Ia bahkan sampai menangis dengan apa yang dilakukan Ardiati.

“Ternyata berbagi kebaikan itu tidak harus jadi orang kaya dulu, ya Pah. Bisa dilakukan siapa saja” kata dia.

“Iya. Adek juga bisa kalau mau.” Jawab saya.

Saat itu juga dia tergerak hatinya. Ia minta ijin untuk menjual stock novel dan komik karyanya dengan harga diskon baik lewat website pribadinya, sosial media dan group WA-nya.

Seluruh hasil penjualan bukunya tersebut, ia belikan paket sembako untuk tetangga-tetangga yang terdampak Covid-19 terutama janda-janda miskin dan warga yang kehilangan pekerjaannya.

Ya, sejak tertarik dengan dunia literasi, ia baru menghasilkan satu novel dan tiga komik yang diterbitkan oleh Mizan Publishing melalui lini bisnisnya yang bernama Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK).

Terlepas cara, bentuk dan jumlah, apa yang dilakukan oleh Ardiati Bima dan Ayunda menjadikan hidup ini menjadi indah dan bermakna.

Bagi masyarakat miskin terdapak Covid-19 ini bisa menjadi suplemen psikologis untuk tetap menjaga asa bahwa mereka tidak sendiri. Ada jutaan orang baik yang rela berbagi di luar sana. 

KaylaAyunda

03

Zakat

Zakat adalah salah satu bentuk berbagi dengan menggunakan harta atau materi. Zakat menjadi salah satu kewajiban umat muslim yang masuk dalam Rukun Islam, selain Syahadat, Sholat, Puasa Ramadan dan Haji.

Menjadi salah satu Rukun Islam, sepengetahuan saya zakat ini termasuk salah satu dari ajaran Islam yang ma‘lûm minad dîn bidl dlarûri.  Artinya, ajaran Islam yang secara pasti telah diketahui secara umum.

Oleh sebab itu, jika kewajiban zakat ini diingkari (bagi yang masuk kategori mampu) maka menyebabkan orang yang ingkar tersebut disebut kufur, dalam pandangan Islam.

Namun zakat berbeda dengan infaq, shodaqoh dan amalan-amalan berbagi lainnya seperti halnya yang dilakukan oleh Ardiati Bima dengan mencentelkan paket sembako di jalan untuk membutuhkan atau yang dilakukan Ayunda dengan menjual buku-buku karyanya.

Dalam pelaksanaannya zakat mempunyai tata cara tersendiri yang telah diatur agama meliputi siapa yang wajib berzakat,  jenis, waktu pelaksanaan, jumlah, serta siapa yang berhak menerima.

zakat
Zakat
Zakat

Nah, di masa pandemi seperti ini, tentu saja zakat kita sangat ditunggu untuk membantu masyarakat miskin (ekonomi kelas bawah) yang jelas-jelas terdampak. 

Kita bisa saja menyalurkan kewajiban zakat kita (khususnya zakat fitrah) ke masjid, melalui sekolah anak atau langsung kepada mereka yang berhak menerima sesuai dengan tuntunan agama.

Namun menurut saya pribadi, zakat akan lebih berdaya guna kalau disalurkan melalui lembaga-lembaga amil zakat.  

Kenapa bilang begitu? Ya, tentu saja ada alasan-alasan mendasar dan rasional. Berikut di antaranya,

ManfaatBAYAR ZAKATMelalui Lembaga Zakat

Sesuai Sunnah Rasulullah & Syariat

Sepanjang yang dicontohkan Rasulullah SAW dan syariah Islam, pelaksanaan zakat memang selalu lewat perantaraan amil zakat. Sekarang lebih umum disebut lembaga zakat.

Aman, Terpercaya, dan Tepat Sasaran

Lembaga zakat di Indonesia itu diawasi langsung Depag dan diaudit laporan keuanganya secara professional. Tentu saja dana zakat pasti dikelola penuh dengan penuh tanggung jawab dan tepat sasaran

Dana Zakat

Mengurangi Pajak Tahunan (SPT)

Kalau kita adalah wajib pajak aktif, sesuai undang-undang zakat dan sumbangan keagamaan yang sifatnya wajib dapat dijadikan sebagai Pengurang Penghasilan Kena Pajak (PKP).

Memiliki Program-Program Pengentasan Kemiskinan yang jelas

Umumnya lembaga-lembaga zakat resmi mengelola dana zakat dengan baik karena memiliki program-program pemberdayaan dan pengentasan kemiskinan dengan jelas.

Nah, salah satu lembaga amil zakat nasional yang kredibel dan terpercaya untuk menampung zakat-zakat kita adalah Dompet Dhuafa. Sudah tidak asing dengan lembaga nirlaba yang berdiri sejak tahun 1993 ini, bukan?

Ya, Dompet Dhuafa sudah menjadi bagian dari kedirian bangsa ini. Ia juga telah menjadi milik masyarakat indonesia dan akan terus berkhidmat mengangkat harkat sosial kemanusiaan kaum dhuafa.

Tak ada keraguan dengan Dompet Dhuafa karena ini adalah lembaga amil zakat legal dan resmi yang diakui secara nasional. Operasionalnya mempunyai payung hukum berdasarkan SK Menteri agama No 239/2016 untuk mengelola dana ZISWAF (Zakat, Infaq, Shadaqah, Wakaf, serta dana lainnya yang halal dan legal, dari perorangan, kelompok, perusahaan/lembaga).

Yang menarik bagi saya pribadi kenapa zakat melalui Dompet Dhuafa adalah, dalam kinerjanya lembaga ini memiliki 5 pilar program utama pengentasan kemiskinan di Indonesia melalui program-program pemberdayaan masyarakat terutama bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, sosial dan dakwah maupun budaya. 

Artinya apa? 

Sepemahaman saya, dana Ziswaf dari masyarakat yang terkumpul bukan hanya untuk membantu kebutuhan ekonomi dan melayani kesehatan masyakat miskin saja tetapi juga dipergunakan untuk program-program permberdayaan masyarakat berkelanjutan agar masyarakat miskin lebih produktif dan mampu lepas dari garis kemiskinannya. 

Terima kasih telah membaca artikel ini. Harapan saya artikel ini mampu menginspirasi kita semua agar tidak takut berbagi dan menebar kebaikan. 

Di tengah pandemi Covid-19 yang berdampak padak kehidupan rakyat kecil, saat ini menjadi waktu yang tepat untuk menebar kebaikan, berbagi dan berdonasi. 

Percayalah bahwa zakat dan donasi kita akan sangat membantu mereka bertahan dan tak kehilangan harapan untuk lepas dari kemiskinan dan pandemi ini.

Mari segera berbuat, jangan menunggu lebih lama! Salurkan zakat dan donasi kita bersama Dompet Dhuafa, baik offline maupun online.