Segala Informasi Ada Di Internet, Masih Perlukah Ke Perpustakaan?

Perpustakaan menempati fungsi strategis dalam upaya mencerdaskan bangsa. Di tempat ini tersimpan dan terdokumentasikan berbagai jenis karya ilmiah, ide, pemikiran dan berbagai informasi lainnya dalam rangka meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Namun ketika dunia sudah “internet  sentris” di mana berbagai informasi bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, masih perlukah kita ke perpustakaan?

Sejak satu novel dan tiga komiknya diterbitkan oleh KKPK  -lini penerbit di bawah Mizan Publishing House- Ayunda anak perempuan saya yang masih duduk di kelas 6 SD ini selalu merajuk minta ditemani ke perpustakaan yang menyediakan koleksi buku-buku anak-anak seusianya. 

Dia bilang kalau hampir seluruh buku yang ada diperpustakaan sekolahnya telah dibacanya dan ia ingin membaca buku-buku lain.

Untuk menambah referensi, mencari ide-ide baru sekaligus refresing, Pah. Adik ingin membuat karya yang banyak selagi masih kecil.”- Begitu kata kata Ayunda.

Sebagai orang tua yang mendukung minat dan bakat literasinya, saya pun menyediakan waktu setidaknya dua kali seminggu di luar jadwal dia latihan Taekwondo, Qiro’ah atau Qosidah.

Awalnya dia minta ditemani ke perpustakaan kecamatan yang dekat dari rumah. Namun sudah enam bulan belakangan ini dia minta ditemani ke perpustakaan termegah dan termodern di Yogyakarta, bahkan konon di Asia Tenggara.

Bagi saya, kemana pun dia suka sepanjang memungkinkan pasti saya antar. Apalagi kalau lokasi perpustakaan ini juga relatif dekat dan mudah dijangkau yakni hanya 20 menit perjalanan dari tempat tinggal saya di Kalasan.

Ayunda betah berlama-lama kalau di perpustakaan ini. Selain mempunyai koleksi buku anak-anak lengkap yang dia sukai, tempatnya juga luas, bersih serta dilengkapi berbagai fasilitas modern dan edukatif.

Sayangnya, entah kenapa setiap kali ke perpustakaan kebanggaan Wong Yogya ini saya merasa kalau pengunjungnya tak sebanding dengan megahnya bangunan dan mewahnya fasilitas yang dimilikinya.

Banyak ruang baca yang kosong, lenggang, hening dan kadang hanya terlihat beberapa pengunjung saja. Mungkin karena saya datang di waktu yang memang lagi sepi pengunjung, pikir saya. 

Namun karena kondisinya selalu sama ketika saya ke tempat ini, wajar kalau saya berkesimpulan bahwa perpustakaan megah ini telah mengalami penurunan jumlah pengunjung seperti yang dialami perpustakaan-perpustakaan lain pada umumnya.

RendahnyaMinat Baca?

Ya. Kabar penurunan jumlah pengunjung perpustakaan memang bukan hal baru. Issue ini bahkan sudah mulai mengemuka sejak tahun 2014. 

Mungkin kebetulan saja, saat itu perpustakaan RW di kampung saya juga harus “berkemas” karena sudah tak mampu bersolek dan memikat hati warganya lagi. 

Begitu pula dengan mobil perpustakaan keliling dari dinas yang biasa mangkal di depan pasar Sidorejo, mendadak juga juga tak terlihat lagi seperti ditelan bumi. Apakah karena semakin rendahnya minat baca masyarakat? 

Maaf! Menurut saya menjadikan minat baca sebagai penyebab menurunnya jumlah kunjungan ke perpustakaan sepertinya kurang tepat. Minat baca masyarakat Indonesia itu secara angka nyaris stagnan. Up and down scorenya tak jauh beda dengan hasil survey UNESCO tahun 2011 yang lalu, yakni 0,001% alias dalam setiap 1000 orang penduduk, hanya satu orang yang memiliki minat baca.   

Sedih juga sih melihatnya, tapi begitulah kenyataannya. Hal ini juga sebenarnya ironis mengingat Indonesia menempati kedua sebagai negara dengan perpustakaan terbanyak di dunia setelah India.

NEGARA DENGAN JUMLAH PERPUSTAKAAN TERBANYAK (PERPUSNAS.GO.ID)

JUMLAH PERPUSTAKAAN DI INDONESIA (PERPUSNAS.GO.ID)

Nah, kalau bukan karena menurunnya minat baca, lalu karena apakah gerangan?

Kita tidak bisa menafikkan bahwa perkembangan teknologi dan internet memang menghadirkan berbagai kemudahan hidup, namun di sisi lain juga menciptakan berbagai dampak lainnya. Salah satunya adalah terjadinya pergeseran cara pandang tentang bagaimana seseorang mendapatkan informasi, berita, referensi dan lain sebagainya. 

Ya. Hanya berbekal gadget dan jaringan internet, kita bisa mendapatkan berbagai informasi dengan mudah dengan membuka portal-portal berita online, youtube, mengakses pusat-pusat data publik dan sumber-sumber lainnya.

Jadi, sangat besar kemungkinannya bahwa minat baca masyarakat itu tetap terjaga namun beralih menggunakan media alternatif yakni dilakukan secara online melalui internet.

Hal ini sebenarnya diperkuat dengan berbagai hasil survey. Salah satunya adalah hasil Survey Penetrasi dan Profil Pengguna Internet di Indonesia tahun 2018 yang dilakukan oleh APJII (Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia).

Hasil survey APJII tersebut mengatakan bahwa dari 171.17 juta pengguna internet di Indonesia, 5,5%-nya menggunakan internet sebagai alternatif untuk membaca berita, mencari informasi dan referensi. 

Masuk akal, bukan ?

PERILAKU PENGGUNA INTERNET DI INDONESIA (APJII 2018)

MasihPerlukah Ke Perpustakaan?

Kalau ada penemuan manusia yang paling revolusioner, maka internetlah jawabannya. Ya, internet benar-benar telah mengubah wajah dunia dan peradaban.

Limitasi geografis antar bangsa runtuh. Dunia yang luas ini telah berubah bak kampung besar saja, bahkan tak lebih besar dari selembar daun kelor dalam kaca mata teknologi. (Masih yakin dengan peribahasa Dunia Tak Selebar Daun Kelor?)

Tak ada yang benar-benar tersembunyi. Setiap entitas kini terkoneksi secara digital dan real time dalam jaringan yang bernama internet. Hidup menjadi “internet sentris” dan “mobile sentris”. Apa konsekwensinya?

Hal yang tidak bisa didapatkan dalam kehidupan seperti saat ini adalah, kita justru tidak bisa mendapatkan kehidupan sosial lebih baik. Interaksi personal face to face menjadi sangat mahal karena orang begitu mudahnya melakukan komunikasi nirkabel dari gadgetnya.

Hal yang tidak bisa didapatkan dalam kehidupan seperti saat ini adalah, kita justru tidak bisa mendapatkan kehidupan sosial lebih baik. Interaksi personal face to face menjadi sangat mahal karena orang begitu mudahnya melakukan komunikasi nirkabel dari gadgetnya.

Nah, perpustakaan ini selain mempunyai fungsi sebagai sumber informasi yang menyimpan berbagai karya ilmiah serta penunjang penelitian, juga menjadi tempat yang sangat ideal untuk mendapatkan kembali kehidupan sosial tersebut. Bagaimana caranya?

Kita bisa memanfaatkan perpustakaan sebagai tempat untuk beraktivitas seperti berdiskusi, meeting atau kangen-kangenan dengan teman dan sahabat. Cara ini jelas lebih hemat ketimbang harus ke cafe atau menyewa co-working space.

 

Selain itu, perpustakaan juga bisa kita jadikan sebagai tempat tujuan rekreasi kultural bersama keluarga. Selain mengasikkan cara ini juga berguna untuk menumbuhkan minat baca sekaligus pembelajaran informal. 

Terus, tidak semua informasi dan referensi yang kita dapatkan di internet  itu “gratis”. Kalau toh pun ada, pembahasannya biasanya kulitnya saja. Untuk data, informasi dan referensi yang komprehensif umumnya kita harus membayar atau berlangganan. 

Itu belum lagi bicara msalah kevalidan informasi. Kalau tidak selektif bisa-bisa kita malah terjebak informasi palsu atau hoak. 

Jadi, menurut saya perpustakaan jauh lebih baik. Selain gratis, informasinya juga lebih komprehensif dan lebih bisa dipercaya. Bener, gak sih?

  • Segala Informasi Ada di Internet, Masih Perlukah Ke Perpustakaan? 1
  • Segala Informasi Ada di Internet, Masih Perlukah Ke Perpustakaan? 2
  • Segala Informasi Ada di Internet, Masih Perlukah Ke Perpustakaan? 3

Megahnya gedung dan Lengkapnya FasilitasTidaklah Cukup

Munculnya pergeseran budaya dan cara pandang orang dalam mendapatkan informasi dan referensi saat ini menjadikan perpustakaan memang harus berbenah. Rasa-rasanya kalau hanya mengandalkan gedung megah, koleksi buku dan fasilitas yang lengkap saja nampaknya belum cukup. 

Maksud saya perlu upaya kreatif dalam memaksimalkan fungsinya sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. (UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, pasal 3)

Dalam bahasa yang lain, fungsi perpustakaan di atas dapat disebut juga sebagai fungsi Educated (Mendidik),  Captivate (Mempunyai Daya Pikat/Menawan), dan Connected (Menghubungkan). Tiga fungsi terintegrasi dan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya.  

Boleh jadi hampir semua perpustakaan di Indonesia sudah menerapkanmya, namun tidak semua perpustakaan mampu memaksimalkannya, terutama fungsi yang kedua, Captivate. Apa itu?

Fungsi Captivate adalah bagaimana perpustakaan tidak hanya sekedar menjadi tempat membaca buku dan mencari referensi namun juga mempunyai daya pikat sebagai makerspace, yakni mampu memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya potensi, bakat dan minat masyarakat. Sebut saja seperti dalam hal kesenian, fotografi, musik, teater, standup comedy dan lain sebagainya

Ya. Tidak semua  perpustakaan mampu memaksimalkan fungsi ini. Dari berbagai perpustakaan yang pernah saya kunjungi bersama Ayunda, sekalipun saya belum pernah melihat penerapan fungsi ini dengan baik.

Saya tidak paham. Apakah kerena memang masih kekeuh memelihara paradigma lama bahwa perpustakaan itu harus hening serta sepi, atau karena hal lain seperti keengganan pengelola merubah diri dan masalah pendanaan.

Padahal menurut semua perpustakaan bisa melakukan terobosan-terobosan kreatif dengan menggandeng EO (event organizer) atau melibatkan instansi lain dalam bentuk sponsorship. 

Optimalisasi fungsi Captivate ini menjadi langkah yang sangat urgent saat ini agar perpustakaan tetap servive. 

Paling tidak bisa menjadi salah satu cara alternatif mendatangkan atau mempertahankan pengunjung di tengah-tengah kemudahan orang mendapatkan informasi secara online dari gadgetnya.

Belajar dariPerpustakaan Unsyiah

Mestinya perpustakaan-perpustakaan lain terutama yang masih keukeuh mempertahan paradigma lama bisa belajar dan mencontoh UPT. Perpustakaan Unsyiah.

Perpustakaan milik Unsyiah (Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh) ini salah satu contoh figur perpustakaan yang sukses meninggalkan paradigma lama tersebut. Tak heran kalau banyak kalangan menyebut perpustkaan ini bukan perpustakaan biasa. 

Kediriannya tidak hanya sebagai yang terbaik di Aceh namun juga menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia. Apa yang harus dicontoh dari UPT Perpustakaan Unsyiah ini?

Apakah tentang megahnya bangunan tiga lantai berfasilitas lengkap dan modern yang memiliki lebih dari 75.114 judul buku? 

Tidak, karena banyak perpustakaan lain di Indonesia juga sudah memiliki gedung yang megah pula.

 

Atau tentang keberhasilannya melakukan transformasi menjadi perpustakaan pintar karena sukses mengembangkan aplikasi UILIS yakni sistem otomasi  berbasis teknologi RFID (Radio Frequency Identification) dan SLiMS (Library Management System) yang memudahkan pengguna?.

Tidak juga. Karena bisa jadi perpustakaan lain juga sudah menerapkan sistem informasi yang serupa atau bahkan lebih canggih.

Mungkin tentang keberhasilanya mendapatkan akreditasi A, dan ISO 27001:2013 serta inovasi pembayaran denda buku dan pembayaran lainya yang telah menggunakan sistem Electronic Data Capture (EDC)?

Bukan. Kalau itu sudah banyak perpustakaan di Indonesia mendapatkan dan menerapkannya (kecuali sertifikasi ISO 27001:2013- hanya Perpustakaan Unsyiah satu-satunya). Lalu apa ?

Perpustakaan-perpustakaan lain harus belajar dan mencontoh bagaimana perpustakaan Unsyiah ini sukses mengoptimalkan fungsi Captivatenya dengan lebih baik sehingga mampu mempertahankan bahkan menaikkan traffict pengunjung dari tahun ke tahun.

UPT. Perpustakaan Unsyiah ini adalah salah satu contoh perpustakaan yang sukses menghadirkan suasana segar, mengasikkan dan penuh kegembiraaan di lingkungan perpustakaan. 

Dalam prakeknya, Perpustakaan Unsyiah ini bukan hanya mampu melengkapi perpustakaan dengan fasilitas-fasilitas menarik seperti cafe, panggung aktifitas dan hiburan, internet, ruangan multimedia dan sebagainya, namun juga mampu menfasilitasi minat bakat segenap civitas akademika dan masyarakat umum dengan berbagai even dan aktifitas yang menarik.

Salah satu event aktivitas yang diselenggarakan oleh UPT perpustakaan yang mempunyai visi menjadi pusat informasi ilmiah yang menginspirasi dan memotivasi pencapaian visi dan misi Universitas Syiah Kuala ini adalah menyelenggarakan kegiatan yang bernama Unsyiah Library Fiesta.

Event fiesta ini adalah agenda rutin yang diselenggarakan setiap tahun. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini UPT. Perpustakaan Unsyiah juga masih konsistem menyelenggarakan kegiatan yang sama yakni Unsyiah Library Fiesta 2020 (ULF 2020).

Boleh dibilang kalau kegiatan ULF ini menjadi kegiatan akbar di Unsyiah karena memiliki berbagai agenda menarik yang tidak hanya melibatkan segenap civitas akademika saja tetap juga masyarakat. Sebut saja seperti lomba akustik. 

Lomba yang bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dalam bermusik terutama musik akustik ini menjadi salah satu rangkaian acara ULF 2020 yang ditunggu-tunggu karena selain menghadirkan aura kompetisi juga menghadirkan hiburan. Lomba ini dikonsep terbuka yang bisa diikuti juga oleh masyarakat umum tanpa batasan usia.

Begitu pula dengan lomba baca dan cipta puisi. Ajang kreatifitas seni menyusun kata indah dan bermakna ini juga terbuka untuk umum dan tak dibatasi usia, dari mulai pelajar hingga mahasiswa.

Tak hanya berkaitan dengan kesenian saja, rangkaian kegiatan Unsyiah Library Fiesta 2020 yang diselenggarakan UPT. Perpustakaan Unsyiah ini juga terdapat lomba yang berkaitan dengan dunia literasi seperti lomba blog dan debat. Kedua lomba ini juga terbuka untuk umum.

 

Satu-satunya lomba yang hanya boleh dikuti oleh kalangan internal universitas adalah shelving. Lomba adu skill menata kembali buku-buku yang sudah digunakan ke rak buku sesuai dengan nomor dan kode yang sudah diklasifikasikan sebelumnya ini hanya diperuntukkan bagi volunteer UPT. Perpustakaan Unsyiah.

Yang menarik, dalam gelaran Unsyiah Library Fiesta 2020 ini juga akan dilakukan pemilihan Duta Baca Unsyiah.  Kegiatan ini menjadi daya tarik tersendiri karena proses pemilihannya dilakukan secara ketat dalam beberapa tahap, bahkan ada tahapan karantinanya juga.

Nah, pada tahap karantina ini semua peserta dimentoring di beberapa kelas seperti kelas bela negara, kelas attitude, kelas alumni dan kelas debat. 

Menarik, bukan?

Dokumentasi

Kegiatan fiesta seperti Unsyiah Library Fiesta ini hanyalah salah satu bentuk aktifitas perpustakaan dalam upaya mengoptimalkan fungsi captivate yang dimilikinya. Tentu saja perpustakaan-perpustakaan lain bisa mengembangkan sesuai ide kreatif masing-masing.

Artinya, poin pentingnya itu bukan pada bentuk dan isi kegiatannya, tetapi bagaimana perpustakaan bisa merubah diri menjadi tempat yang menarik dan mempunyai daya pikat bagi masyarakat ditengah-tengah kemudahan orang mendapatkan informasi melalui internet.    

Ya. Andai saja perpustakaan-perpustakaan di Indonesia mampu mengoptimalkan fungsi captivate seperti yang dilakukan oleh UPT Perpustakaan Unsyiah ini, maka mana ada berita tentang perpustakaan yang hidup segan mati tak mau karena tak lagi digemari, atau pertanyaan seperti judul artikel ini, segala informasi ada di internet, masih perlukah ke perpustakaan?

Terima kaksih telah membaca artikel ini, semoga bermanfaat untuk dunia literasi Indonesia. Saya Pamit!

Sebelum Anda Berlalu !

Sumber Bacaan

  1. Grhatama Pustaka - dpad.jogjaprov.go.id
  2. Perpustakaan Nasional Republik Indonesia- perpusnas.go.id
  3. APJII - www.apjii.or.id/survei2018
  1. DPR RI - jurnal.dpr.go.id
  2. Unsyiaah - www.unsyiah.ac.id
  3. UPT Perpustakaan Unsyiah - library.unsyiah.ac.id

Photo dan Image

  • -library.unsyiah.ac.id
  • -Istimewa

Layout, infografis, desain 2D & 3D