Pemikiran Ki Hadjar Dewantoro dan Pentingnya Pendidikan di Luar Sekolah Bagi Anak

Jauh sebelum Indonesia merdeka, kita sudah mengenal sosok besar seperti Ki Hadjar Dewantoro. Beliau adalah pelopor pendidikan pribumi di jaman penjajahan sekaligus pendiri Perguruan Taman Siswa (1922).

Sebagai orang yang konsen dalam dunia pendidikan, Ki Hadjar Dewantoro adalah pemilik berbagai pemikiran-pemikiran revolusioner tentang pendidikan anak bangsa, keluarga dan masyarakat pada jamannya.

Pemikiran beliau tidak hanya mampu melecut kesadaran berpendidikan pada masa pergerakan dulu, tetapi juga mampu menerobos jaman dan menjangkau jauh hingga ke masa depan. Buktinya, pemikiran-pemikiran beliau yang revolusioner tersebut bahkan diadopsi dalam sistem pendidikan nasional hingga saat ini seperti “Patrap Triloka”.

Mari sejenak bernostalgia dengan membuka kembali memori-memori otak kita saat bersekolah dulu. Tentu kita masih ingat dengan istilah-istilah populer sepertiĀ Ing ngarsa sung tulada,Ā Ing madya mangun karsa, dan Tut wuri handayani.Ā Nah,Ā itulah Patrap Triloka yang diajarkan Ki Hadjar.

Tentang pendidikan, pemikiran beliau pernah mengungkapkan pemikiran yang menarik, yakni,

{

…di dalam hidupnya anak-anak adalah tiga tempat pergaulan yang menjadi pusat pendidikan yang amat penting baginya yakni alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda (masyarakat/lingkungan).

– Ki Hadjar Dewantoro, Wasita, th I no 4 ā€“ Juni 1935 –

Pemikiran beliau tidak hanya mampu melecut kesadaran berpendidikan pada masa pergerakan dulu, tetapi juga mampu menerobos jaman dan menjangkau jauh hingga ke masa depan.

Pemikiran Ki Hadjar ini menjadi rujukan bagi saya, anda, para pendidik dan masyarakat, bahwa pendidikan anak itu membutuhkan ekosistem yang kondusif dan sinergitas kemitraan antara sekolah, keluarga dan masyarakat.

Tidak hanya itu, bila kita mengkaji lebih jauh pemikiran salah satu pelopor tiga serangkai yang pernah membuat geram pemerintah Belanda dengan tulisan berjudulĀ Als ik een nederlander was (Andaikan Aku Seorang Belanda)Ā ini, kita akan menemukanĀ maksud eksplisit bahwa core value alamĀ perguruan yang diungkapkan beliau juga mempunyai makna yang dinamis.

Dengan menggunakan pendekatan istilah jaman now misalnya,Ā coreĀ value itu merujuk pada pengajaran bagi anak yang didapatkan melalui pendidikan formal dan pendidikan non formal atau pendidikan luar sekolah.

Pemikiran Ki Hadjar ini menjadi rujukan bagi saya, anda, para pendidik dan masyarakat, bahwa pendidikan anak itu membutuhkan ekosistem yang kondusif dan sinergitas kemitraan antara sekolah, keluarga dan masyarakat

Apa itu Pendidikan Luar Sekolah dan seberapa penting ?

Sangat bisa dipahami kalau tujuan setiap orang tua menyekolahkan anaknya adalah keinginan memberikan bekal pendidikan guna untuk kehidupan yang lebih baik di masa mendatang.

Namun, sebagai orang tua kita juga harus paham bahwa dengan perubahan jaman yang semakin kompleks, mendelegasikan pendidikan anak hanya kepada lembaga pendidikan bernama sekolah tidaklah cukup.

Anak butuh diberi kesempatan mengembangkan diri sesuai minat dan bakatnya.Ā Nah, di sinilah letak peran penting pendidikan di luar jalur sekolah bagi anak.Ā 

Tentang definisi dan pentingnya pendidikan di luar sekolah telah banyak dikemukakan oleh para pakar. Salah satunya (alm) Prof. H. D. Sudjana S., S.Pd., M.Ed., PhD.

Beliau yang dulunya adalah Guru BesarĀ Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini dalam bukunya yang berjudul “Pendidikan Luar Sekolah” mengatakan,

{

ā€œPendidikan luar sekolah adalah setiap kegiatan belajar membelajarkan, diselenggarakan di luar jalur pendidikan sekolah dengan tujuan untuk membantu peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi diri berupa pengetahuan, sikap, keterampilan, dan aspirasi yang bermanfaat bagi dirinya, keluarga, masyarakat, lembaga, bangsa, dan negara.”

– Prof. H. D. Sudjana S., S.Pd., M.Ed., PhD –

Melengkapi kemampuan akademis, anak perlu diberi kesempatan mengembangkan diri sesuai minat dan bakatnya yang bisa diperoleh melalui pendidikan luar sekolah.

Berangkat dari definisi dan pentingnya pendidikan non formal di luar sekolah ini, kita pun tidak lagi sulit menemukan berbagai model institusi pendidikan alternatif dengan sistem pembelajaran yang lebih variatif.

Ada payung hukumnya,
gak sih ?

Ada. Dalam tatanan kehidupan bernegara, Pendidikan Luar Sekolah juga mempunyai pijakan hukum yang mengikat.

Payung hukum pertama adalah UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menggantikan Undang-undang Nomor 2 Tahun 1989 yang sudah tidak memadai lagi.

Dalam pelaksanaannya, UUSPN tahun 2003 ini diperkuat juga dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 73 Tahun 1991 tentang Pendidikan Luar Sekolah.

Dalam tatanan kehidupan bernegara, apa pun yang berkaitan dengan Pendidikan Luar Sekolah pasti mempunyai pijakan hukum yang mengikat.

Seperti apa pendidikan di luar sekolah itu ?

Tentang bentuk dan satuan-satuannya, dalam UUSPN No 20 tahun 2003 telah jelas mengaturnya bahwa bentuk dan satuan-satuan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah bisa berbentuk pendidikan keluarga, kelompok belajar, tempat kursus dan satuan pendidikan sejenis yang merupakan inisiasi dari masyarakat.

Nah, dalam prakteknya pendidikan di luar sekolah ini kediriannya mempunyai 3 (tiga) fungsi dan karakteristik sekkaligus yakni sebagai pengganti (subtitute), menambah (supplement) maupun melengkapi (complement) pendidikan formal di sekolah.

Dalam tatanan kehidupan bernegara, apa pun yang berkaitan dengan Pendidikan Luar Sekolah pasti mempunyai pijakan hukum.

coding for kids
1

Subtitution

Pendidikan di luar sekolah dapat menggantikan pendidikan formal di sekolah seperti Kejar Paket A, B dan C.

1

Supplementary

Pendidikan tambahan di luar sekolah menambah pengetahuan dan keterampilan yang tidak didapat anak dengan pendidikan di sekolah seperti les private, training dan sebagainya.

1

Complementary

Dilaksanakan di luar sekolah tetapi melengkapi pengetahuan dan keterampilan seperti kursus, try out, pelatihan, dan sebagainya.

Untuk anak-anak kita yang saat ini masih mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah, bentuk pendidikan di luar sekolah yang memungkinkan bagi mereka adalah yang bersifat menambah maupun melengkapi. Contohnya adalahĀ mengikuti berbagai kursus dan pelatihan-pelatihan sesuai dengan minat dan bakat anak.

Bila anak ingin mengembangkan bakatnya dibidang kesenian misalnya, saat ini tidak lagi kesulitan menemukan tempat-tempat kursus belajar musik, sanggar seni tari, dancing dan sebagainya.

Hal serupa juga mudah didapatkan bila anak ingin mengembangkan minat dan bakat dalam keahlian bahasa, elektronik, dan lain sebagainya karena juga sudah banyak tempat-tempat kursus yang secara khusus menyelenggarakannya.

Bahkan dengan mengikuti trend teknologi saat ini, orang tua pun kini bisa mendaftarkan anak-anaknya mengikuti kursus design grafis dan atau kursus pemrograman komputer (coding) khusus anak seperti yang diselanggarakan oleh lembaga kursus terkemuka di Jakarta dan di Indonesia, DUMET School.

Untuk anak-anak kita yang saat ini masih mengenyam pendidikan formal di sekolah-sekolah, bentuk pendidikan di luar sekolah yang memungkinkan bagi mereka adalah yang bersifat menambah maupun melengkapi.

i

Materi & Instruktur

Materi pemrograman komputer khusus untuk anak usia 6 hingga 12 tahun dengan instruktur handal dan menguasai bidangnya

}

Jadwal Fleksibel & Semi Private

Anak bisa menyesuaikan jadwal kursus dengan jadwal sekolah. Proses belajar tidak tergantung jumlah murid karena satu anak yang belajar pun proses belajar tetap dimulai.

w

Disupport Seumur Hidup

Periode kursus tidak dibatasi waktu. Anak mendapat aksesĀ  belajar di DUMET School sepuasnya sampai bisa dan memiliki hasil karya dan setelah luluspun akan disupport seumur hidup (gratis konsultasi)

Pembayaran Mudah

Pembayaran mudah, bisa dengan berbagai cara dari mulai debit, credit, transfer bank, dan cicilan.

Dumet School adalah salah satu contoh bentuk dan satuan pendidikan di luar sekolah bagi anak sebagaimana diatur dalam UUSPN No 20 tahun 2003 serta sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar DewantoroĀ dalam hal pelibatan masyarakat dalam pendidikan anak selain keluarga.

Secara fungsi dan karakteristiknya pun jelas yakni menambah (supplementary) dan melengkapi (complementary) ilmu dan pengetahuan tertentu yang bisa jadi tidak diajarkan di sekolah, terutama sekolah-sekolah umum.

Beberapa hal yang mendasari pendapat saya ini adalah, selain materi yang telah disesuaikan dengan usia anak, jam kursus pun sangat fleksibel menyesuaikan jadwal sekolah anak.

Artinya, selain anak mendapatkan segala ilmu dari pelajaran di sekolah sesuai dengan kurikulum yang berlaku, anak pun bisa maju dan berkembang sesuai dengan minat bakat yang dimilikinya untuk menghadapi persaingan dunia kerja dan hidup di masa mendatang.

Dumet School ini salah satu contoh bentuk dan satuan pendidikan di luar sekolah bagi anak sebagaimana diatur dalam UUSPN No 20 tahun 2003 serta sesuai dengan pemikiran Ki Hadjar Dewantoro

Terakhir, terima kasih telah membaca tulisan berjudulĀ Pemikiran Ki Hadjar Dewantoro dan Pentingnya Pendidikan di Luar Sekolah Bagi Anak ini, semoga bermanfaat.

Mari kita support anak-anak kita dengan membekali ilmu pengetahuan dan ketrampilan lain yang tidak didapatkannya di sekolah melalui pendidikan di luar sekolah sesuai dengan minat dan bakatnya agar bisa bersaing di masa mendatang.

Education is what remains after one has forgotten what one has learned in school.

– Albert EinsteinĀ –

Tunggu Dulu, Teman.

Mohon Kerendahan Hati Teman-teman

Artikel Saya di Writing-contest.bisnis.com

UNTUK BANTU NGE-VOTE

MASIH ADA YANG KURANG, NIH !

Vote Artikel &Thanks