Si Manis Yang Bikin Hidup Meringis

Si Manis ini adalah salah satu penyakit tidak menular (PTM) yang menjadi induk dari segala penyakit. Dari sini, seseorang bisa menderita berbagai penyakit lain seperti serangan jantung, stroke dan sebagainya yang berujung pada kematian. 

Liburan Lebaran tempo hari telah memberi kebahagiaan yang luar biasa bagi saya sekeluarga. Setidaknya saya bisa mengajak istri dan anak saya berkumpul dengan keluarga besar di Brebes, setelah dua kali lebaran kesempatan itu tidak terjadi karena sebab-sebab tertentu.

Ibu mertua saya yang tetap sehat di umur 73 tahun begitu bahagia menyambut cucu paling kecil yakni anak saya yang paling bontot dan baru berumur satu tahun. Begitu pula dengan pak de dan bu de serta kakak-kakak sepupunya di sana.

Tak banyak yang berubah. Rumah, jalan dan tetangga-tetangga yang guyup dan semakin hangat. Satu-satunya yang saya lihat adanya perubahan adalah kakak ipar pertama saya, Muhaimin.

Laki-laki berumur 51 tahun dan bekerja sebagai seorang driver di sebuah bank lokal di Brebes ini nampak berubah. Wajahnya kelihatan menua dengan uban di sana sini. Tubuhnya pun tak sesegar dulu, semakin kurus dan layu dengan kerutan yang semakin jelas.

Terlepas dari kehangatan dan kerenyahan dalam setiap pembicaraan, namun saya menebak ada sesuatu yang terjadi dengannya.

Penyakit Tidak Menular

Si Manis Sampai Ke Jantung

“Manis, Om. Kata Dokter Tipe  2 ” Kata kakak ipar saya dengan ekspresi yang sulit saya pahami.

Ah, saya sudah menduganya. Secara kasat mata perubahan fisiknya sudah merujuk ke arah itu, terutama tubuhnya yang semakin kurus. Ya, dua tahun lalu kakak ipar saya cenderung obesitas, namun terakhir ketemu tempo hari bobot tubuhnya menurun drastis.

“Iya, Om. Saya sekarang gampang lelah, sering merasa haus, cepet sekali merasa lapar dan sering mual tanpa sebab”  Sambungnya.

“Setahun belakangan ini pergelangan tangan saya juga terasa sakit dan genggaman seperti tidak bertenaga. Lihat nih,  kaki juga malah bengkak, menghitam dan terasa sakit.” Tambahnya dengan napas yang nampak terasa berat sambil menunjukkan bengkak di kakinya. 

Saya jadi ingat. Kondisi yang dialami kakak ipar saya tak jauh beda dengan ayah saya dulu. Dokter pun mendiagnosa ayah saya terkena penyakit kencing manis (Diabetes Mellitus )Dari penyakit ini pula ayah saya menderita berbagai komplikasi penyakit lain dari mulai jantung, paru-paru hingga kanker hati. 

Namun, setelah berjuang hampir 2 tahun, ayah saya pun harus menyerah dengan penyakit-penyakitnya itu dalam usia yang belum genap 55 tahun.  

Tak lama setelah itu ibu saya pun menyusul ayah akibat stroke hemoragik atau pecahnya pembuluh darah otak, juga pada usia yang belum bisa dikatakan tua banget, yakni 52 tahun.

Diabetes Mellitus

Kenapa Kakak Ipar dan Ayah Saya
Bisa Terkena Kencing Manis?

Terlepas dari beberapa faktor resiko yang mungkin ada seperti keturunan, umur, stress atau zat kimia penyebab diabetes, menurut saya apa yang dialami oleh kakak ipar dan juga orang tua saya sangat erat hubungannya dengan gaya hidup dan pola hidup yang kurang sehat.

Kakak ipar saya misalnya, dia belum bisa “move on” dari kebiasaan masyarakat pantura, umumnya Tegal, Brebes dan sekitarnya, yakni “moci”.

Kebiasaan moci atau minum teh panas manis yang dituang dari poci set terbuat dari gerabah (tanah liat) ini bahkan nyaris menjadi “ritual” harian yang dilakukannya sebelum berangkat kerja dan ketika santai di rumah.

Tak hanya moci, kebiasaan minum manis yang dilakukan kakak ipar saya juga termasuk ngopi bahkan minum soda plus susu dan sirup. Lebaran tempo hari, kebiasaan minum manis ini masih saya lihat.

Begitu pula dengan ayah saya dulu. Walaupun beliau tidak suka kopi atau minuman bersoda namun semasa hidup beliau suka sekali minum teh manis setiap hari, bahkan dengan mengenakan gelas ukuran jumbo.

Cofee
Mas Muhaimin

Rokok !

Sembari moci atau ngopi, saya juga melihat kakak ipar saya sepertinya sudah kecanduan rokok, kebiasaan yang kini sudah semakin ditinggalkan oleh banyak orang. 

Kebiasaan merokok kakak ipar saya ini seperti cerobong asap kereta api jaman dulu. Begitu habis langsung nyambung lagi seperti tak ada henti-hentinya. Apalagi kalau lagi ngobrol di depan rumah.

“Jujur saya belum bisa meninggalkan rokok, Om. Buat nemenin aktifitas.” Kata kakak ipar saya yang sehari bisa menghabiskan 2 hingga 3 bungkus rokok ini.

 

Kakak Ipar saya juga mengakui kalau suka mager alias malas gerak atau kurang melakukan aktifitas fisik (olah raga). Dia bilang kalau hari-harinya sudah capek kerja dan seringkali pulang larut malam bila ada tugas luar kota sehingga males untuk melakukan olah raga.

Bila hari libur, waktu banyak dipergunakan untuk tidur seharian atau duduk berlama-lama di depan keybord memainkan lagu-lagu tembang kenangan.

Hal serupa dulunya juga dilakukan oleh ayah saya sehingga tubuhnya menjadi gemuk (obesitas), yang menjadi salah satu penyebab diabetes yang dideritanya.

Mas Muhaimin 2

Induk dari Segala Penyakit Tidak Menular Mematikan

Diabetes Mellitus ( Kecing Manis) seperti yang dialami oleh kakak ipar dan ayah saya adalah salah satu penyakit tidak menular ( TPM ) yang menjadi penyebab kematian secara global.

Diabetes malah disebut-sebut sebagai induk munculnya berbagai penyakit mematikan seperti serangan jantung, stroke, kanker dan lain sebagainya. Celakanya, tanda dan gejala diabetes baru disadari setelah terjadinya komplikasi. Maka penyakit ini disebut juga sebagai “silent killer” . Bagaimana bisa terjadi ?

Diabetes terjadi bila seseorang memiliki kondisi metabolisme tubuh yang abnormal yakni kadar glukosa dalam darah dan urin meningkat yang diakibatkan kerana  ketidakmampuan tubuh untuk menghasilkan hormon insulin (hormon pengatur gula) dan atau insulin yang dihasilkan tidak mencukupi.

Meningkatnya kadar gula darah ini karena pankreas tidak dapat memproduksi insulin atau ketika otot, lemak dan sel-sel hati tidak merespon insulin secara normal.

Kasus kematian yang disebabkan oleh Diabtes di Indonesia cukup tinggi. Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) memperlihatkan bahwa peningkatan angka prevalensi Diabetes di Indonesia meningkat dari 6,9% di tahun 2013 menjadi 8,5% di tahun 2018.

Hingga kini diabates telah menjadi kontributor penyebab kematian tertinggi ketiga di Indonesia setelah stroke dan Jantung.  

Infografis Penyebb Kematian

Lihat Fakta-Fakta
Agar Lebih Waspada

Diabetes Mellitus yang diderita kakak ipar dan ayah saya adalah satu dari sekian banyaknya Penyakit Tidak Menular (PTM) yakni penyakit tubuh yang tidak dapat ditularkan kepada orang lain namun mematikan.

Fakta, Penyakit Tidak Menular menjadi penyebab utama 73% kematian di Indonesia. Dalam banyak kasus penyakit ini juga dialami oleh kelompok masyarakat usia produktif yakni 45-54 tahun.

Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 menyebutkan penyakit tidak menular di Indonesia meningkat secara signifikan dibandingkan pada tahun 2013 terutama untuk pengidap penyakit kanker, stroke, ginjal kronik, diabetes, dan hipertensi .

Jika dibandingkan dengan hasil riset pada 2013, prevalensi kanker meningkat dari 1,4 persen jadi 1,8 persen, pengidap stroke dari 7 persen menjadi 10,9 persen, penyakit ginjal kronik naik dari 2 persen jadi 3,8 persen.

Sementara berdasarkan pemeriksaan gula darah, penyakit diabetes melitus naik dari 6,9 persen jadi 8,5 persen. Hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan penyakit hipertensi naik dari 25,8 persen jadi 34,1 persen.

Meningkatnya Penyakit Tidak Menular (PTM) di negara kita tidak saja berdampak pada meningkatnya morbiditas, mortalitas, dan disabilitas di kalangan masyarakat, melainkan juga berdampak pada meningkatnya beban ekonomi baik di tingkat individu maupun pada skala nasional (negara).

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan, Anung Sugihantono, mengatakan bahwa pada 2017 PTM sudah menghabiskan sekitar Rp 61,3 triliun dari total anggaran BPJS.

Parah nggak, sih ?

 

Fakta Penykit Tidak Menular
Penyakit Tidak Menular

Baca Juga

Penyakit Tidak Menular Penyebab Kematian Terbanyak di Indonesia

Data Riskesdas 2007 menunjukkan di perkotaan, kematian akibat stroke pada kelompok usia 45-54 tahun sebesar 15,9%, sedangkan di perdesaan sebesar 11,5%. Hal tersebut menunjukkan PTM (utamanya stroke) menyerang usia produktif…….

Sehat di Masa Muda, Nikmat di Hari Tua
Dengan 3 Perilaku Germas

Fakta bahwa Penyakit Tidak Menular bukan hanya dialami oleh masyarakat lanjut usia tetapi juga nyasar kepada kelompok masyarakat usia produktif menunjukkan ada kesalahan dalam perilaku dan gaya hidup masyarakat saat ini. Jujur, itu sangat mengerikan bagi saya.

Apa yang dialami oleh kakak ipar, ayah saya dan jutaan orang lainnya cukup memberikan gambaran nyata bagi saya bahwa hidup ini terlalu berharga untuk dipertaruhkan dengan perilaku dan gaya hidup yang merangsang munculnya Penyakit Tidak Menular bagi tubuh.

Poinnya, saya memilih untuk tidak mengikuti jejak mereka. Ada tanggung jawab yang mesti saya tunaikan kepada keluarga dan itu tak boleh menjadi sia-sia. Saya pun ingin merasakan sehat di masa muda dan nikmat di hari tua.

Ajakan pemerintah melalui Kementerian Kesehatan kepada masyarakat dalam upaya pengendalian penyakit Tidak Menular dengan GERMAS tidak bisa ditawar lagi.

GERMAS (Gerakan Masyarakat Hidup Sehat) adalah gerakan sistematis dan terencana yang dilakukan bersama-sama oleh seluruh komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan dan kemampuan berperilaku sehat untuk meningkatkan kualitas hidup.

Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati. Nah, 3 (tiga) perilaku germas berikut ini yang mesti dilakukan untuk mencegah munculnya Penyakit Tidak Menular dalam tubuh, yakni :

 

#1

BE ACTIVE

Melakukan Aktifitas Fisik

Aktivitas fisik bermanfaat mencegah munculnya Penyatkit Tidak Menular (PTM). Aktifitas fisik yang dimaksudkan tidak harus melakukan aktivitas fisik yang berat namun cukup melakukan hal-hal sederhana di rumah dan lingkungan sekitar sebut saja seperti bermain bola, bersepeda, naik turun tangga, jalan santai, dan kegiatan lainnya.  Berikut ini 10 manfaat aktifitas fisik yang dilakukan secara teratur dan terukur, yakni :

Aktifitas Fisik

#2

EAT HEALTHY

Konsumsi Sayur dan Buah

Buah dan sayur mengandung manfaat yang luar biasa bagi kesehatan tubuh. Konsumsi buah dan sayur merupakan bagian dari diet yang direkomendasikan dalam menu sehari-hari. Sayur dan buah mengandung vitamin, mineral, antioksidan, serat, cairan, dan zat-zat gizi dari tumbuhan yang mampu memperlancar sistem metabolisme tubuh. Ini bermanfaat untuk mencegah munculnya berbagai penyakit tidak menular.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melalui Pedoman Gizi Seimbang, Undang-Undang Kesehatan No.36 tahun 2009 merekomendasikan konsumsi 3 sampai 5 porsi sayur dan 2 sampai 3 porsi buah per hari untuk segala manfaatnya, sebgai berikut :

Manfaat Makan Sayur dan Buah

#3

CHECK UP

Memeriksakan Kesehatan Secara Berkala

Memeriksakan kesehatan secara berkala adalah gaya hidup modern dan bermanfaat untuk mendeteksi dan mencegah munculnya berbagai penyakit menular dan Penyakit Tidak Menular (PTM).

Manfaat Check Up

Upaya pemerintah melalui kemenkes dalam menanggulangi berbagai masalah kesehatan semakin komprehensif dan beragam. Sebut saja seperti peningkatan akses jaminan kesehatan via program JKN, mendorong lingkungan fisik dan sosial yang sehat hingga program gerakan masyarakat sehat (GERMAS) dengan perilaku CERDIK. 

GERMAS dan perilaku CERDIK menjadi dua nilai yang tak dapat dipisahkan. Keduanya satu jiwa dan napas yang menjadi panduan gaya hidup sehat masyarakat untuk mencegah munculnya berbagai penyakit, tak terkecuali Penyakit Tak Menular.

Image1

Cek kesehatan secara berkala

Image1

Enyahkan asap rokok

Image1

Rajin aktifitas fisik

Image1

Diet sehat dengan kalori seimbang

Image1

Istirahat cukup

Image1

Kelola stress

Terima kasih telah membaca artikel berjudul “Si Manis Yang Bikin Hidup Meringis” ini. Sebuah artikel tentang Penyakit Tidak Menular (PTM), salah satunya adalah Diabetes Mellitus yang diderita kakak ipar saya dan penyakit yang telah merenggut ayah saya beberapa tahun lalu.

Saya merasa beruntung karena kakak ipar mengijinkan saya menggunakan foto dan menceritakan apa yang dideritanya dengan harapan pembaca tidak mengalaminya juga.

Ya. Diabetes Mellitus dan sebagian besar penyakit memang berawal dari gaya hidup dan pola hidup. Sekali kita memilih gaya hidup yang salah, maka konsekuensinya akan membuat hidup kita meringis.

Mari kita bantu pemerintah melalui Kementerian Kesehatan dalam mencegah dan mengendalikan penyakit tidak menular tersebut dengan GERMAS.

Saya sudah memulai kini giliran anda !

 

Dokumentasi Kemenkes

Baca Juga

Prinsip Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) dan Regulasinya

Tunggu Dulu, Teman.

Mohon Kerendahan Hati Teman-teman

Artikel Saya di Writing-contest.bisnis.com

UNTUK BANTU NGE-VOTE

MASIH ADA YANG KURANG, NIH !

Vote Artikel &Thanks